Iklan

Iklan

,

Iklan

Eco Bhineka Muhammadiyah Terima Kunjungan Pemuda Lintas Iman Belajar Membangun Perdamaian

Redaksi
Sabtu, 15 Juni 2024, 12:06 WIB Last Updated 2024-06-15T05:07:29Z


JAKARTA –
Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jl. Menteng Raya, No. 62, Menteng Jakarta Pusat menerima kunjungan komunitas pemuda lintas iman untuk belajar membangun perdamaian.


Pemuda lintas iman yang tergabung dalam Fahmina Institute tersebut diterima oleh Eco Bhineka Muhammadiyah di ruang pertemuan lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah pada (12/6/2024).


Perwakilan dari Eco Bhineka Muhammadiyah, Triningsih menjelaskan program Eco Bhineka yang saat ini dijalankan. Program merupakan salah satu program yang dikerjakan oleh Muhammadiyah untuk isu peace building, merawat kerukunan melalui aksi penyelamatan lingkungan.


“Program Eco Bhinneka Muhammadiyah sasarannya adalah perempuan dan anak muda lintas agama melakukan aksi bersama melestarikan lingkungan, di Pontianak, Ternate, Surakarta, dan Banyuwangi, sekaligus membentuk komunitas pemuda lintas iman di 4 lokasi ini, ada SEKA, PEKA, Sederek, dan AMONG,” katanya.


Dia menambahkan, Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Fahmina Institute sama-sama sebagai organisasi mitra lokal di Indonesia yang melaksanakan program Inisiatif Bersama untuk Aksi Keagamaan yang Strategis, atau dikenal dengan Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA).


Sementara itu, Executive Body JISRA Fahmina Institute, Alifatul Arifiati menjelaskan inisiatif pertemuan ini justru datang dari teman-teman komunitas kepemudaan agar menyempatkan berkunjung ke berbagai organisasi keagamaan, salah satunya berkunjung ke Persyarikatan Muhammadiyah.


“Perjumpaan-perjumpaan menjadi suatu hal yang sangat penting untuk menjembatani perbedaan, termasuk menjembatani isu kerukunan dengan isu lingkungan, seperti yang dilakukan Muhammadiyah melalui program Eco Bhinneka,” kata Alif.


Ahsan Hamidi, Pegiat Eco Bhinneka Muhammadiyah, menegaskan bahwa ancaman kelestarian lingkungan tidak disebabkan oleh satu entitas orang yang berdasarkan kulit, ras, agama, sehingga begitupun penyelesaiannya.


“Justru semua orang harus urun rembug. Itulah isu lingkungan, tidak bisa lepas dari kerukunan, karena menyelesaikan masalah lingkungan itu orang harus rukun. Gerakan-gerakan advokasi untuk perbaikan dan kelestarian lingkungan dilakukan oleh satu kelompok yang basis nilainya adalah rukun,” kata Ahsan.***

Iklan

UMBandung