
NGAWI – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Kiyai Saad Ibrahim menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber penyembuh yang hakiki bagi manusia, khususnya dalam menjaga dan memulihkan kesehatan jiwa.
Hal tersebut disampaikan Saad saat mengisi Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi, Ahad (4/1/2026), dengan tema “Membumikan Risalah Islam Berkemajuan, Mencerahkan Ngawi Ramah.”
Dalam pengajiannya, Saad menjelaskan bahwa fungsi Al-Qur’an tidak hanya sebagai kalam Allah, tetapi juga sebagai sumber petunjuk hidup yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk dalam aspek kesehatan mental dan spiritual.
Menurutnya, Al-Qur’an memberikan pedoman penting dalam membentuk kesehatan manusia yang bermula dari cara pandang, pola pikir, hingga tindakan. Jiwa yang sehat, kata Saad, merupakan kunci utama bagi terwujudnya fisik yang sehat.
“Jangan dengki. Dengki akan menyebabkan jiwa kita terganggu, dan akibatnya fisik kita juga ikut terganggu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Saad mengutip pandangan ilmuwan Muslim Ibnu Sina yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, sakit merupakan kondisi yang tidak alami dan bisa muncul akibat berbagai faktor. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Allah tetap menjadi sebab utama dari segala sebab.
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” ujar Saad mengutip firman Allah dalam QS Asy-Syu‘ara ayat 80.
Saad juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit menyebut konsep syifa (penyembuh) sebanyak empat kali, yaitu dalam QS Yunus ayat 57, QS An-Nahl ayat 69, QS Fushshilat ayat 44, dan QS Al-Isra ayat 82. Keempat ayat tersebut menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai obat dan penawar bagi manusia.
“Salah satu sifat Al-Qur’an adalah sebagai basis penyembuhan bagi jiwa kita,” ujarnya.
Masih merujuk QS Asy-Syu‘ara ayat 78–80, Saad menegaskan bahwa proses kesembuhan sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Manusia, lanjutnya, hanya dituntut untuk berikhtiar secara maksimal dengan menjalankan perintah-Nya. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menjadi jalan dan sarana penyembuhan, sementara hasil akhirnya tetap ditentukan oleh Allah SWT.
Di akhir kajian, Saad mengajak jamaah untuk meneguhkan komitmen dalam menjalankan perintah Allah, salah satunya dengan membaca atau sekadar melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an secara rutin dan berurutan, dari Al-Fatihah hingga An-Nas.
Ia meyakini bahwa Al-Qur’an memiliki kekuatan tersendiri sebagai obat penyembuh jiwa bagi siapa pun yang membacanya.
“Walaupun tidak paham maknanya, tidak apa-apa, karena itu sudah menjadi bagian dari proses penyembuhan,” tandasnya. (fiya)


