
YOGYAKARTA – Pilar ekonomi Muhammadiyah yang telah menjadi amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, merupakan agenda strategis yang hingga saat masih menjadi ikhtiar Muhammadiyah dalam rangka memajukan kesejahteraan umat dan bangsa.
Bendahara Umum Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, Dyah Suminar, mengungkapkan bahwa potensi ekonomi Muhammadiyah maupun ’Aisyiyah sangat besar, terutama dengan dukungan jaringan amal usaha yang tersebar luas di berbagai bidang.
Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa persaingan bisnis di tingkat nasional maupun global kian kompetitif dan dinamis. Karena itu, sektor usaha Muhammadiyah dan ’Aisyiyah perlu terus diperkuat melalui pengelolaan yang profesional, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
“Muhammadiyah dan Aisyiyah mempunyai potensi yang luar biasa dengan didukung amal usahanya. Kita tidak hanya patut bangga dengan jumlah karena persaingan kita begitu cepat dan banyak. Jadi kita tidak boleh biasa-biasa saja dalam menghadapi arus perkembangan dan persaingan zaman,” ungkap Dyah dalam Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Ahad (22/2/2026).
Lebih lanjut, Dyah turut mengutip pemikiran Hamim Ilyas tentang konsep Hayyah Thayyibah sebagai cita-cita Muhammadiyah yang menghadirkan masyarakat yang sejahtera, damai, dan bahagia. Dalam mewujudkan ini Ia mengucap istilah “sejahtera bareng” dalam rangka mengajak warga persyarikatan untuk membangun kesejahteraan bersama-sama.
“Ini adalah bagian dakwah yang harus terus menerus dikonkritkan, para kader harus terus senantiasa menyampaikan, berani untuk memulai berdakwah melalui sektor ekonomi. Diperlukan komitmen bersama untuk “sejahtera bareng” mewujudkan masyarakat yang sejahtera sesejahtera sejahteranya, damai sedamai-damainya, dan bahagia sedamai-damainya,” tuturnya.
Selaras dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU), Ghufron Mustaqim, menyampaikan bahwa potensi bisnis Muhammadiyah dan ’Aisyiyah dapat terus diperluas dengan menjadikan Risalah Islam Berkemajuan sebagai basis ideologis sekaligus operasional.
Wakil Ketua LP UMKM PP Muhammadiyah ini juga mengatakan, dalam konteks ekonomi dan kewirausahaan, Risalah Islam Berkemajuan perlu dijadikan referensi utama sekaligus worldview bagi para pengusaha muslim di lingkungan persyarikatan.
“Sangat penting untuk bersandar kepada Risalah Islam Berkemajuan yang dikontekstualisasikan ke dalam dunia usaha dan bisnis sehingga dapat terus relevan dengan tantangan dan kemajuan zaman. Hal ini perlu dimasifkan ke level praksis di berbagai bidang, termasuk bisnis dan kewirausahaan,” ujar Ghufron.
Penguatan pilar ekonomi Muhammadiyah bukan sekadar agenda organisatoris, melainkan bagian dari strategi dakwah berkemajuan yang menyentuh dimensi kesejahteraan umat.
Melalui sinergi antara nilai ideologis dan profesionalitas pengelolaan usaha, Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan model ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat. (bhisma)


