Iklan

Iklan

,

Akidah Islam Berkemajuan Berbasis Rahmat Allah: Dari Tauhid ke Peradaban!

Tim Redaksi
Jumat, 27 Februari 2026, 07:07 WIB Last Updated 2026-02-27T00:07:20Z


TANGERANG, muhammadiyahgoodnews.id
—Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa Muhammadiyah pada hakikatnya telah lama memiliki fondasi akidah Islam berkemajuan yang hidup dan dipraktikkan dalam organisasi maupun kehidupan warganya.


Hal tersebut ia sampaikan dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang, Rabu (25/02?2026).


Dalam pemaparannya, Hamim menjelaskan bahwa selama ini muncul anggapan seolah-olah Muhammadiyah belum memiliki rumusan akidah yang jelas. Kesan tersebut, menurutnya, bukan karena ketiadaan konsep, melainkan karena akidah itu tidak secara eksplisit diberi label sebagai “akidah” dalam dokumen resmi organisasi.


“Nilai-nilai akidah di Muhammadiyah sebenarnya telah tersebar dan terumuskan dalam berbagai keputusan tarjih, keputusan Tanwir, serta keputusan Muktamar yang menjadi pedoman gerakan Muhammadiyah sejak lama,” ujar Hamim.


Karena itu, menurutnya, upaya rekonstruksi konsep akidah Islam berkemajuan yang kini didiskusikan bukanlah menciptakan konsep baru, melainkan mengungkap dan merumuskan kembali akidah yang telah hidup dalam praksis gerakan.


Ia menjelaskan bahwa inti akidah Islam berkemajuan bertumpu pada keyakinan bahwa Allah Yang Maha Esa hadir secara fungsional dalam alam ciptaan melalui rahmat-Nya yang tidak terbatas. Kehadiran ilahi tersebut bukan sekadar konsep teologis abstrak, melainkan memiliki implikasi nyata dalam kehidupan manusia dan peradaban.


Dalam kerangka akidah ini, kehadiran Allah dirumuskan dalam dua dimensi utama, yakni tauhid rahamutiyah dan tauhid murni.


Tauhid rahamutiyah dipahami sebagai keyakinan bahwa Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat rahmah sebagai inti dari seluruh perbuatan, sifat, dan nama-nama-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah al-An‘am ayat 12. Perspektif ini menempatkan rahmat sebagai dasar relasi antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.


Sementara itu, tauhid murni dimaknai sebagai keimanan yang terbebas dari kedzaliman, merujuk pada al-An‘am ayat 82, yang melahirkan kehidupan masyarakat yang aman dan damai melalui jalan lurus (shirath mustaqim). Jalan tersebut menjadi fondasi bagi terwujudnya kebaikan menyeluruh dalam seluruh bidang kehidupan, sebagaimana pesan al-Fatihah ayat 6–7.


Lebih jauh, Hamim Ilyas menekankan bahwa kehadiran Allah yang bersifat fungsional itu harus dilembagakan dalam bentuk keberagamaan yang etis. Agama tidak berhenti pada keyakinan, tetapi menjelma dalam amal saleh dan kualitas kehidupan nyata.


Seorang mukmin, katanya, akan mencapai hayah thayyibah—kehidupan yang baik—sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nahl ayat 97, yang ditandai oleh kesejahteraan setinggi-tingginya, kedamaian sedalam-dalamnya, dan kebahagiaan sebenar-benarnya.


“Tanda dari hayah thayyibah itu ada tiga, yaitu sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya, bahagia sebahagia-bahagianya,” ungkap Hamim.


Selain itu, iman yang diwujudkan melalui amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran (tawashi bil haq), serta saling menasihati dalam kesabaran (tawashi bish shabr), akan membebaskan manusia dari kerugian (khusrin) sebagaimana dijelaskan dalam surah al-‘Ashr ayat 1–3.


Kondisi terbebas dari kerugian tersebut menjadi lawan dari kegagalan hidup dan mengantarkan manusia pada falah, yakni keberhasilan paripurna yang menempatkan kehidupan pada puncak kebaikan di seluruh bidang.


Dalam konteks sosial kemasyarakatan, Hamim juga mengaitkan akidah Islam berkemajuan dengan cita-cita pembentukan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Ia merujuk pada keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta yang menegaskan karakter masyarakat ideal sebagai tujuan gerakan Muhammadiyah.


Masyarakat tersebut ditandai oleh kehidupan berketuhanan dan religius, persaudaraan yang kuat, akhlak dan peradaban yang luhur, penegakan hukum syariat, kesejahteraan sosial, tradisi musyawarah, sikap ihsan, semangat kemajuan, serta kepemimpinan yang bertanggung jawab.


Melalui pemaparan itu, Hamim Ilyas menegaskan bahwa akidah Islam berkemajuan menjadi kerangka besar yang menghubungkan iman, etika, dan pembangunan masyarakat.***