
BANDUNG -- Ramadan selalu datang membawa aroma yang khas. Di dapur, panci mendidih sejak sore. Di jalanan, tukang kolak berjajar seperti barisan pejuang takjil. Di rumah-rumah urang Sunda, menu berbuka kadang tak jauh dari dua legenda rasa: rendang dan kolek.
Tapi pertanyaannya, ketika sudah sahur rendang, lalu siang harinya sendawa masih terasa seperti parade rempah di tenggorokan—Puasa Ramadan Penuh Sendawa rasa Rendang dan Kolek, Batalkah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele. Tapi, percaya atau tidak, ia sering muncul di obrolan santai selepas tarawih. Sambil nyeruput teh hangat dan ngemil opak, ada saja yang nyeletuk, “Eh, tadi abdi sendawa, masih kerasa rendang. Naha batal, nya?”
Mari kita kupas dengan pikiran jernih, hati tenang, dan sedikit bumbu humor khas urang Sunda.
Puasa Ramadan dan Kegelisahan yang Tak Terduga
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan kesabaran, kejujuran, dan kesadaran diri. Dalam tradisi Islam, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Namun, kehidupan nyata tak selalu sesederhana teori di buku fikih. Ada sendawa. Ada aroma. Ada rasa yang seolah masih tinggal.
Bayangkan ini: sahur jam 4 pagi. Nasi panas, rendang empuk, sambal yang sedikit nyegrak. Setelah imsak, niat sudah mantap. Siang menjelang, perut kosong mulai berdiskusi dengan pikiran. Lalu tiba-tiba—“Hup!” Sendawa kecil. Dan di situ, samar-samar, ada jejak rendang. Seolah rempah Padang mengirim salam terakhir.
Pertanyaan pun muncul: apakah itu membatalkan?
Penjelasan Fikih: Antara Rasa dan Realitas
Dalam kajian fikih, sesuatu membatalkan puasa jika ada zat (ain) yang masuk ke dalam tubuh melalui rongga yang terbuka dengan sengaja. Artinya, makan dan minum secara sadar dan sengaja jelas membatalkan.
Namun, bagaimana dengan sendawa yang membawa rasa sisa makanan?
Para ulama menjelaskan bahwa rasa yang tersisa di tenggorokan akibat makanan yang dikonsumsi sebelum imsak tidak membatalkan puasa. Itu bukan aktivitas makan baru, melainkan sisa efek dari proses pencernaan. Selama tidak ada makanan baru yang ditelan secara sengaja, puasa tetap sah.
Jadi, jika sendawa hanya membawa aroma atau rasa samar rendang atau kolek, tanpa ada partikel makanan yang sengaja ditelan, maka puasanya tidak batal.
Tenang, rendang itu cuma nostalgia rasa, bukan sesi makan ulang.
Sendawa sebagai Metafora Kehidupan Ramadan
Menariknya, sendawa ini bisa jadi bahan refleksi. Ramadan sering membuat kita lebih peka pada hal-hal kecil. Sesuatu yang biasanya tak kita pedulikan, mendadak jadi bahan kontemplasi.
Di hari biasa, siapa peduli sendawa beraroma rendang? Tapi saat puasa, kita jadi bertanya-tanya. Inilah Ramadan: ia mengajarkan kesadaran.
Urang Sunda punya kebiasaan unik saat puasa. Menjelang magrib, ngabuburit di alun-alun atau di pinggir jalan. Anak-anak main sepeda, bapak-bapak diskusi ringan soal politik dan harga cabai, ibu-ibu sibuk memilih gorengan. Semua terasa sederhana, tapi penuh makna.
Di tengah suasana itu, kadang ada yang nyeletuk, “Eh, tong loba ngobrol, engke asup angin, sendawa deui!” Disambut tawa bersama.
Ramadan memang tak melulu soal serius. Ia juga tentang kebersamaan dan tawa kecil yang menghangatkan sore.
Kolek, Rendang, dan Identitas Rasa
Walau rendang identik dengan Sumatera Barat, di banyak rumah Sunda ia sudah jadi tamu tetap saat Ramadan. Sementara kolek—versi lokal dari kolak—lebih lekat lagi dengan dapur urang Sunda. Pisang, ubi, gula aren, santan. Rasanya manis, lembut, dan akrab.
Saat sahur makan rendang, berbuka dengan kolek, perut kita seperti menyimpan dua dunia rasa: pedas-gurih dan manis-hangat. Tak heran jika siang harinya sendawa terasa seperti festival kecil.
Namun secara ilmiah, sendawa adalah proses alami tubuh mengeluarkan gas dari lambung. Ia bukan proses memasukkan sesuatu. Maka secara hukum puasa, ia tidak termasuk pembatal.
Humor Khas Urang Sunda Saat Puasa
Orang Sunda dikenal dengan kelembutan dan humornya yang halus. Dalam konteks puasa, ada saja candaan yang muncul:
“Mun sendawa bau rendang, artina sahurna sukses!”
Atau,
“Sing sabar, eta mah cuma kenangan, lain tambahan.”
Humor seperti ini bukan sekadar lelucon. Ia adalah cara kita menjaga suasana Ramadan tetap ringan. Karena puasa bukan ajang mencari celah untuk batal, melainkan momen memperkuat niat.
Antara Waswas dan Keyakinan
Kadang yang lebih berbahaya dari sendawa adalah waswas. Rasa ragu yang berlebihan bisa mengganggu ketenangan ibadah. Padahal prinsip dalam fikih menyebutkan bahwa keyakinan tidak hilang karena keraguan.
Jika kita yakin sudah niat puasa dan tidak makan atau minum setelah imsak, maka sendawa beraroma rendang atau kolek tidak otomatis membatalkan.
Ramadan mengajarkan keseimbangan: antara kehati-hatian dan ketenangan hati.
Refleksi: Puasa Bukan Sekadar Fisik
Pada akhirnya, pertanyaan “Puasa Ramadan Penuh Sendawa rasa Rendang dan Kolek, Batalkah?” membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Puasa bukan sekadar soal apa yang masuk atau keluar dari tubuh. Ia tentang niat, kesadaran, dan pengendalian diri.
Sendawa hanyalah fenomena biologis. Tapi respon kita terhadapnya adalah cermin kedewasaan spiritual.
Urang Sunda sering berkata, “Nu penting mah niat.” Dan memang benar. Selama niat lurus dan tidak ada pelanggaran nyata, puasa tetap sah.
FAQ Seputar Sendawa dan Puasa
1. Apakah sendawa saat puasa membatalkan?
Tidak. Sendawa adalah proses alami tubuh dan tidak membatalkan puasa.
2. Bagaimana jika terasa ada rasa makanan saat sendawa?
Jika hanya rasa atau aroma tanpa menelan makanan baru secara sengaja, puasa tetap sah.
3. Bagaimana jika ada sedikit cairan naik ke mulut?
Jika tidak sengaja dan langsung dibuang, tidak membatalkan. Namun jika sengaja ditelan kembali, bisa menjadi masalah.
4. Apakah bau mulut saat puasa juga membatalkan?
Tidak. Bau mulut adalah akibat alami dari lambung kosong.
5. Apakah rasa manis kolek yang masih terasa termasuk makan?
Tidak. Itu hanya sisa rasa dari makanan yang dikonsumsi sebelum imsak.
6. Bagaimana menghindari waswas saat puasa?
Perkuat pemahaman fikih dasar dan tanamkan keyakinan bahwa Islam tidak mempersulit umatnya.
Tenang, Puasamu Tetap Sah
Jadi, Puasa Ramadan Penuh Sendawa rasa Rendang dan Kolek, Batalkah? Jawabannya: tidak batal.
Sendawa hanyalah jejak rasa, bukan aktivitas makan ulang. Ia mungkin membawa nostalgia sahur yang lezat, tapi tidak menggugurkan niat dan ibadah kita.
Ramadan adalah perjalanan. Di dalamnya ada lapar, tawa, kolek hangat, rendang pedas, dan sendawa kecil yang mengingatkan kita pada nikmatnya kebersamaan.
Tetap tenang, tetap tersenyum, dan lanjutkan puasa dengan hati yang lapang. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan sekadar rasa di tenggorokan, tapi keikhlasan di dalam hati.***

