Iklan

QuranMu

Iklan

QuranMu
,
Donasi ke Lazismu

Jejak Oman Fathurohman dì Majelis Tarjih PP Muhammadiyah

Tim Redaksi
Kamis, 19 Maret 2026, 15:45 WIB Last Updated 2026-03-19T08:50:42Z
YOGYAKARTA — Sosok Oman Fathurohman dikenal luas di lingkungan Muhammadiyah sebagai “penjaga gawang” dalam persoalan hisab dan ilmu falak. Kiprahnya yang panjang di Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadikannya rujukan utama dalam penentuan awal bulan Hijriah dan pengembangan metodologi kalender Islam.

Hal itu terungkap dalam podcast Jejak Ulama Tarjih yang tayang di Tarjih Channel pada Selasa (17/03/2026). Dalam perbincangan santai namun mendalam, Oman memaparkan perjalanan intelektual, kiprah organisasi, hingga dinamika ijtihad dalam tubuh Muhammadiyah.

Oman mulai bergabung di Majelis Tarjih tingkat pusat sejak 1990, setelah sebelumnya aktif di tingkat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1985. Dalam rentang lebih dari tiga dekade, ia menapaki berbagai posisi strategis: mulai dari wakil sekretaris (1990–1995), sekretaris (1995–2005), wakil ketua selama tiga periode (2005–2020), hingga kini menjabat Ketua Divisi Hisab dan IPTEK sejak 2022.

“Totalnya sudah sekitar 35 tahun di Majelis Tarjih,” ujarnya.

Perjalanan tersebut tidak datang dari jalur kaderisasi formal Muhammadiyah. Ia mengaku tidak melalui jenjang organisasi seperti IPM atau IMM, bahkan sempat “dicurigai” karena namanya tidak tercatat dalam data kader. Namun, justru dari ruang-ruang diskusi ilmiah Tarjih, Oman menemukan kecocokan.

“Di situlah saya belajar bagaimana berdiskusi, berdebat dengan santun, dan mengkaji agama secara ilmiah,” katanya.

Lahir di Ciamis, Oman mengaku awalnya tidak mengenal Muhammadiyah. Ia baru mengenalnya saat kuliah di IAIN (kini UIN) Yogyakarta. Bakatnya dalam berhitung sudah tampak sejak kecil, bahkan ia sering meraih nilai sempurna dalam pelajaran matematika.

Ketertarikannya pada ilmu falak semakin kuat ketika menjadi asisten dosen. Ia bahkan pernah mengoreksi perhitungan dosennya di kelas. Pengalaman yang kemudian justru mengantarkannya dipercaya mengajar.

“Memang dari kecil saya lebih nyambung ke hitung-hitungan,” ujarnya.

Dalam perjalanan keilmuan, Oman banyak belajar langsung dari gurunya, Abdurrahim, yang disebutnya sebagai sosok luar biasa. Ia menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan semalaman, untuk mendalami ilmu falak secara intensif.

“Belajar itu dari habis asar sampai menjelang subuh. Itu rutin,” kenangnya.

Oman menempatkan dirinya dalam rantai panjang tradisi keilmuan falak Muhammadiyah. Ia menyebut nama-nama seperti Saadoeddin Djambek dan K.H. Wardan Diponingrat sebagai bagian dari mata rantai tersebut.

Menurutnya, perkembangan metode penentuan awal bulan di Muhammadiyah mengalami evolusi panjang: dari hisab urfi, ijtima qabla al-ghurub, wujudul hilal, hingga kini Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Ini bukan inkonsistensi, tapi bentuk kemajuan. Muhammadiyah itu harus berkembang,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa wujudul hilal bersifat lokal, sedangkan KHGT dirancang untuk berlaku global, sehingga memberikan keseragaman kalender Islam di seluruh dunia.

Dalam isu penentuan awal Syawal 1447 H, Oman menegaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan KHGT.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan dengan pemerintah dimungkinkan karena perbedaan kriteria. Pemerintah menggunakan parameter visibilitas hilal (tinggi dan elongasi), sementara Muhammadiyah mengandalkan hisab yang memberikan kepastian lebih awal.

“Hisab itu memberi kepastian. Karena itu Muhammadiyah memilihnya,” ujarnya.

Di luar kiprah akademik dan organisasinya, Oman tetap aktif mengajar di berbagai kampus seperti Universitas Ahmad Dahlan, UIN, hingga Universitas Gadjah Mada. Mata kuliah yang diampunya tidak hanya ilmu falak, tetapi juga ushul fikih dan fikih muamalah.

Kesederhanaan dan keterbukaannya tercermin dari kisah hidupnya, termasuk pengalaman berhenti merokok yang ia jadikan pelajaran kesehatan dan disiplin diri.*(**