Oleh: Tarqum Aziz, S.H.I., M.Pd (Kabid Organisasi PDPM Banyumas Periode 2012-2016).
Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah pada 2 Mei 2026 bukan sekadar penanda usia, melainkan sebuah jeda reflektif untuk membaca ulang arah perjalanan panjang gerakan kepemudaan Islam di Indonesia. Sejak berdirinya pada 2 Mei 1932 sebagai organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah telah menempatkan dirinya sebagai ruang kaderisasi yang menghimpun, membina, dan menggerakkan potensi pemuda Islam dalam kerangka dakwah amar ma’ruf nahi munkar, penguatan keilmuan, gerakan sosial, serta kemandirian ekonomi.
Perjalanan panjang itu tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari denyut sejarah bangsa yang sarat pergulatan. Dalam setiap fase penting, dari Kebangkitan Nasional Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, Revolusi Politik 1966 Indonesia, hingga Reformasi 1998 Indonesia, kaum muda selalu menjadi aktor penting perubahan. Dalam konteks itulah Pemuda Muhammadiyah menemukan relevansinya: bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan yang menyatu dengan denyut transformasi sosial bangsa.
Memasuki usia ke-94, organisasi ini berada pada fase kematangan. Ia bukan lagi entitas yang mencari bentuk, melainkan kekuatan yang telah teruji oleh waktu. Ketahanannya menghadapi berbagai tantangan zaman menunjukkan adanya mentalitas pejuang, penggerak, sekaligus pemenang. Namun, kedewasaan itu justru membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar. Tantangan hari ini tidak cukup dijawab dengan nostalgia sejarah, tetapi menuntut keberanian untuk melangkah lebih progresif.
Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” menjadi kunci membaca arah tersebut. “Mengakar” bukan sekadar metafora, melainkan penegasan bahwa gerakan ini harus tetap berpijak pada nilai-nilai fundamental: integritas moral, etika publik, dan komitmen keumatan. Di tengah realitas ruang publik yang kerap dipenuhi pragmatisme politik dan krisis keteladanan, akar nilai menjadi jangkar agar gerakan tidak kehilangan arah.
Sementara itu, “bertumbuh” menuntut dinamika. Ia mengisyaratkan bahwa Pemuda Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada kuantitas, tetapi harus memperkuat kualitas. Pertumbuhan itu terwujud dalam kapasitas intelektual kader, kemampuan adaptasi terhadap disrupsi digital, serta keberanian melahirkan gagasan dan solusi kreatif. Pemuda Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir, tetapi harus memberi arti, tidak hanya ramai di dalam, tetapi harus mampu berdampak di luar.
Dalam lanskap kebangsaan yang kompleks dengan ditandai oleh ketidakpastian geopolitik, krisis moral, dan ketimpangan sosial, peran pemuda menjadi semakin krusial, sebagaimana pernah diingatkan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Sejarahwan dan Mantan Ketum PP Muhammadiyah, persoalan bangsa adalah rangkaian panjang yang tak pernah benar-benar usai. Karena itu, Pemuda Muhammadiyah dituntut tidak hanya reaktif, tetapi juga solutif. Ia harus hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang mampu merumuskan arah perubahan.
Pepatah Arab menyebutkan, “Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.” Maka kualitas pemuda hari ini akan menentukan wajah kepemimpinan bangsa esok. Pemuda Muhammadiyah harus serius mempersiapkan hal itu dengan menguatkan internalisasi nilai sekaligus meningkatkan kualitas eksternalisasi gerakan. Kolaborasi lintas sektor, penguatan pelayanan publik, transformasi digital, hingga tata kelola organisasi yang modern menjadi keniscayaan.
Dengan kerja kolektif dan kepemimpinan profetik, meminjam istilah Prof. Dr. Kuntowijoyo, kader diharapkan mampu menghadirkan gagasan alternatif, membangun dialog rasional, serta merumuskan kebijakan publik yang berkeadilan. Dalam kerangka itu, gagasan “Pemuda Negarawan” sebagaimana disampaikan Ketua Umum PP Muhamamdiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir menjadi semakin relevan. Pemuda negarawan adalah mereka yang menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Dengan empat pilar: keilmuan, politik kebangsaan, kemandirian, dan kewirausahaan sosial, pemuda diharapkan mampu menjadi solusi atas problematika bangsa, bukan sekadar reaktif, tetapi aspiratif dan transformatif.
Sebagai bagian dari civil society, Pemuda Muhammadiyah juga memiliki posisi strategis dalam relasi dengan negara. Pemerintah adalah mitra dalam pembangunan, tetapi juga objek kritis yang harus terus dikawal. Dalam posisi itu, Pemuda Muhammadiyah dituntut menghadirkan solusi jangka panjang yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar respons sesaat terhadap gejala permukaan.
Milad ke-94 ini bukanlah perayaan biasa. Ia adalah penegasan arah. Bahwa perjalanan panjang ini harus terus dilanjutkan dengan kesadaran baru: mengakar kuat pada nilai, sekaligus melesat jauh dalam karya. Dari kader, untuk umat, demi Indonesia yang berkemajuan.
Pertanyaan reflektif itu kembali mengemuka: sudah sejauh mana kita memberi arti? Sebab 94 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan yang menuntut makna tentang bagaimana api persyarikatan terus dinyalakan, nalar kritis terus dirawat, dan keberanian terus dihadirkan dalam setiap langkah.
Selamat Milad ke-94 (2 Mei 1932 – 2 Mei 2026)
94 tahun perjalanan Pemuda Muhammadiyah penuh jejak, karya, dan semangat yang terus tumbuh serta mengakar untuk Indonesia Jaya, bukan sekadar angka, tapi perjalanan panjang yang menuntut makna. Kita boleh tumbuh, tapi jangan lupa mengakar. Jangan hanya ramai di dalam, tapi sepi dampak di luar.Tumbuh, mengakar, dan berdampak untuk Indonesia Jaya.***




