Makna Teologi al-Ma‘un di Dua Generasi Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Makna Teologi al-Ma‘un di Dua Generasi Muhammadiyah

Senin, 29 Agustus 2022 | 07:24 WIB Last Updated 2022-08-29T00:24:23Z


Oleh: Ahmad Najib Burhani


Teologi utama yang mendasari berdiri dan berkembangnya Muhammadiyah adalah teologi al-Ma‘un. Teologi yang didasarkan pada Al-Qur’an (107:1-7) ini seringkali diterjemahkan dalam tiga pilar kerja, yaitu: healing (pelayanan kesehatan), schooling (pendidikan), dan feeding (pelayanan sosial). 


Teologi ini pulalah yang membuat organisasi ini mampu bertahan hingga 100 tahun dengan memiliki ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan layanan kesejahteraan sosial yang lain. 


Karena itu, dalam rangka memikirkan Muhammadiyah paska peringatan satu abad (18 Nopember 1912 – 18 Nopember 2012), tulisan ini ingin melihat makna dan implementasi teologi ini dalam dua generasi yang berbeda; generasi awal dan generasi sekarang.


Materi utama yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, kepada murid-muridnya pada dekade awal abad ke-20 adalah pemahaman Surat al-Ma‘un. Pada intinya, surat ini mengajarkan bahwa ibadah ritual itu tidak ada artinya jika pelakunya tidak melakukan amal sosial. Surat ini bahkan menyebut mereka yang mengabaikan anak yatim dan tak berusaha mengentaskan masyarakat dari kemiskinan sebagai ‘pendusta agama’.


Berhari-hari Ahmad Dahlan mengajarkan materi ini ke murid-muridnya. Sampai-sampai sebagian dari mereka merasa bosan dan mempertanyakan mengapa Kiai Dahlan mengulang-ulang pelajaran dan tidak segera pindah ke materi lain. 


Mendengar pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik bertanya, “Apakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah mempraktekkannya?” 


Dahlan lantas meminta murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian memandikannya dan menyuapinya. Inilah yang disebut pemahaman pertama dari teologi al-Ma‘un itu.


Kiai Dahlan tidak hanya menerjemahkan teologi itu dalam tindakan karikatif seperti tersebut di atas. Dengan menggandeng Budi Utomo dan kraton Yogyakarta, Kiai Dahlan lantas mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Apa yang dirintisnya seratus tahun yang lalu itu kini telah berkembang pesat di seluruh Indonesia. Berdasarkan laporan Pimpinan Pusat  Muhammadiyah, organisasi ini telah memiliki 161 perguruan tinggi, 5.500 sekolahan, lebih dari 300 rumah sakit, dan lebih dari 300 panti asuhan (Tuhuleley, 2003).


Pertanyaan dasar yang perlu dikemukakan sekarang, di era global kapitalisme, adalah apakah pemaknaan teologi al-Ma‘un seperti yang dilakukan oleh Kiai Dahlan 100 tahun yang lalu itu masih efektif dan manjur, terutama untuk 100 tahun akan datang? 


Orang menjadi miskin itu kebanyakan bukan karena mereka malas bekerja. Banyak sekali orang miskin yang justru bekerja banting tulang 24 jam sehari. Mereka menjadi miskin karena hidup di dalam sistem yang menciptakan kemiskinan dan mendukung penindasan terhadap orang miskin. 


Cara-cara tradisional dalam pengentasan kemiskinan, terutama yang bersifat karikatif, terlihat tak berdaya dan kedodoran menghadapi sistem kapitalisme global dan pemiskinan struktural oleh negara terhadap rakyatnya.


Satu contoh, Dompet Dhuafa (DD) menciptakan program Masyarakat Mandiri (MM) di lebih dari 10 desa. Ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah telah dikeluarkan untuk melakukan pembinaan selama bertahun-tahun. 


Namun sepertinya upaya itu hilang begitu saja atau tak tampak hasilnya. Muhammadiyah juga melakukan program pemberdayaan masyarakat miskin di beberapa tempat, namun upaya itu sangat mudah bubar tergilas oleh kapitalisme global. Kondisi inilah yang menyebabkan salah satu tokoh Muhammadiyah, almarhum Moeslim Abdurrahman, menawarkan pemaknaan dan penerapan baru dari teologi al-Ma‘un.


Bagi Kang Moeslim, pertama, definisi orang miskin itu tak boleh dibatasi pada mereka yang miskin secara ekonomi. Orang miskin adalah mereka yang mengalami marjinalisasi sosial, seperti petani, pemulung, dan pelacur, dan mereka yang mengalami subordinasi sosial seperti kelompok agama minoritas (Ahmadiyah, Syiah, dan sebagainya). 


Kedua, bagaimana menerapkan teologi al-Ma‘un bagi orang-orang miskin kontemporer itu? Caranya tentu tak bisa dilakukan dengan member mereka uang, tapi melawan sebab-sebab yang membuat mereka miskin, seperti kapitalisme global dan budaya kemiskinan (culture of poverty).


Pendeknya, jika Muhammadiyah ingin bertahan atau berkembang pada 100 tahun yang akan datang, maka selain mempertahankan upaya-upaya penerjemahan teologi al-Ma‘un dalam tiga pilar di atas (schooling, healing, dan feeding), organisasi ini perlu juga mengadopsi sistem baru untuk mengejawantahkan teologi al-Ma‘un di era kapitalisme global.


Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah, 13/98, 22 Syakban - 7 Ramadlan 1434 H or 1 -15 Juli 2013, hal. 34.