Abdul Mu’ti: Perkuat Pluralitas Lewat 3 Sistem Pembelajaran Agama

Notification

×

Iklan

Iklan

Abdul Mu’ti: Perkuat Pluralitas Lewat 3 Sistem Pembelajaran Agama

Jumat, 16 September 2022 | 10:01 WIB Last Updated 2022-09-16T03:01:14Z


Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti hadir dalam konferensi internasional yang digelar secara virtual bertajuk “Kebebasan Beragama, Supremasi Hukum, dan Literasi Keagamaan”, pada Rabu (14/9/2022) malam. 


Pada konferensi tersebut, Mu’ti menyampaikan tentang pentingnya peran pendidikan agama dalam menjaga pluralitas. Menurutnya, pluralitas agama di lingkungan masyarakat perlu dimulai dari pendidikan agama. 


Ia juga berpendapat agama selama ini sering dianggap menjadi faktor yang memisahkan berbagai kelompok agama, tetapi sebenarnya dalam banyak kasus pendidikan agama justru menjadi faktor yang mempersatukan perbedaan – perbedaan yang ada. 


“Konteks perbedaan yang ada ini, manusia harus menyadari bahwa perbedaan – perbedaan adalah sebuah pilihan yang harus hormati, bahkan sangat dihormati oleh Allah,” ungkap Mu’ti. 


Lebih lanjut, Mu’ti juga menjelaskan tentang prinsip penerimaan. Ia berpendapat bahwasanya peran toleransi sangatlah penting dalam hidup berdampingan. Pasalnya, masih ada orang yang mengabaikan sesama yang mengalami kesulitan karena perbedaan keyakinan. 


Oleh karena itu, Mu’ti menyarankan bahwa pendidikan agama perlu dilaksanakan dengan mengembangkan tiga konsep penting dalam sistem pembelajaran.


Pertama, pendidikan lebih inklusif, artinya Pendidikan haruslah terbuka mengenai perbedaan yang ada sesuai dengan keyakinan. 


Kedua, mengembangkan mindful education atau Pendidikan mindful yang mengajarkan pemahaman bahwa setiap individu harus diakui eksistensinya serta menghormati pilihannya termasuk agama. 


Berkaitan dengan kedua konsep itu, Mu’ti menegaskan bahwa keduanya mengandung landasan pluralisme dan inklusifitas.  Maka harus dipahami, agama merupakan sebuah pilihan dan diharuskan menghormati orang lain sesuai dengan pilihanya.


“Kita menyadari betul apa yang kita lakukan itu adalah sebuah perbuatan terbaik yang kita usahakan semaksimal mungkin tidak menyakiti atau mungkin tidak membuat orang mengalami kesulitan dalam kehidupan,” tegasnya. 


Ketiga,  mentransformasikan berbagai macam ajaran – ajaran agama untuk saling memberikan ruang dialog dalam pendidikan agama yang pluralis.


Menurutnya, cara ini memungkinkan kesempatan untuk memahami atau mengenal agama lain baik secara tekstual maupun praktik keseharian. Dengan demikian, akan terbuka pemahaman terkait toleransi dan penerimaan perbedaan karena menjadi sosok yang terbuka di tengah perbedaan. 


Terakhir, Mu’ti menyarankan perlunya perbaikan serta peningkatan metode pelajaran pada pendidikan agama dalam hal bahan ajar yang lebih ideologis. Hal itu untuk memberi ruang pada peserta didik untuk turut aktif dalam bertanya atau mengajukan perbandingan terkait materi yang diberikan. (Ghozy/Syifa)


Sumber: muhammadiyah.or.id