Perpaduan Teks Agama dan Sains Bikin Pendidikan di Muhammadiyah Unggul

Notification

×

Iklan

Iklan

Perpaduan Teks Agama dan Sains Bikin Pendidikan di Muhammadiyah Unggul

Sabtu, 03 September 2022 | 11:27 WIB Last Updated 2022-09-03T04:27:50Z


KETUA
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr M Saad Ibrahim MA mengatakan yang pertama-tama harus dikuasai oleh santri pesantren Muhammadiyah adalah ilmu alat. 


“Ada nahwu, sharaf, balaghah. Bahkan, ada i’lal dan lain sebagainya.”


Hal tersebut dia ucapkan oleh pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) V di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).


Kalau itu dikuasai dengan baik, maka lulusan pesantren Muhammadiyah bisa berselancar di khazanah-khazanah islamiyah. Dan khazanah Islam tidak hanya berbicara nushus (teks-teks) tapi juga perpaduan antara teks dan sains. 


Padukan Teks Agama dan Sains


Kiai Saad–sapaannya, menyampaikan ketika Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Kajian Ramadhan tahun 2021, salah satu narasumbernya adalah Robert Hefner, cendekiawan dari Boston University. Menariknya, Hefner mengatakan bahwa pendidikan Islam terbaik adalah Muhammadiyah. 


Menurut Saad, bukan kali itu sama Hefner menyampaikan hal tersebut. Di beberapa forum internasional Hefner juga menyampaikan hal yang sama. Hal ini bagi Saad berbeda dengan pandangan mayoritas umat Islam yang berpendapat studi Islam terbaik itu di Timur Tengah, terutama Al-Azhar karena sudah berdiri selama seribu tahun lebih. 


Saad mengatakan, argumentasi yang diberikan Hefner adalah Muhammadiyah memadukan antara sains dan agama. Antara al’ulum (sains) dan an-nushus (teks agama) dan telah dilakukan sejak awal. 


Menurut Saad, KH Ahmad Dahlan adalah seorang yang hanya mempelajari an-nushus. Tetapi begitu berkiprah mendirikan Muhammadiyah, maka di antara lain yang dia lakukan: meluruskan arah kiblat di masjid-masjid dan mushala-mushala ke arah Masjid al-Haram. 


“Tentu ini (mengubah arah kiblat) menggunakan astronomi, dan ilmu falak. Maka berarti sejak awal, ini (memadukan teks agama dan sains) sudah dilakukan,” katanya. 


Dan baru belakangan ini Sekolah Tinggi Agama Islam Negri (STAIN) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) berubah menjadi Universitas Islam Negri (UIN). Menurut dia, itu berarti kalau dahulu yang dipelajari di STAIN dan IAIN, semata-mata adalah dimensi nushus, baru belakangan dimensi sains mulai dikembangkan. 


“Sedangkan di Muhammadiyah sejak awal telah melakukan ini,” ujarnya. 


Mantan dosen UIN Maliki Malang itu menyampaikan dulu ketika peradaban Islam maju, disebut sebagai the golden age of islamic history karena memadukan antara dimensi nushusdan dimensi sains. Dan itu berlangsung sejak abad ke-3 hijriah sampai 500 atau 800 tahun kemudian.


“Silaturahim peradaban yng dibangun dunia Islam dengan Yunani misalnya, adalah tanda-tanda tentang ini semuanya,” tuturnya. 


Dan setelah itu ungkapnya dunia Islam meredup, maka KH Ahmad Dahlan diberikan ilham oleh Allah untuk mengembalikan masa kejayaan Islam, khususnya memadukan antara dunia sains dan nushus. 


“Ada proses sainstifikasi nushus dan nushusisasi sains. Kira-kira seperti itu. Maka peran pondok pesantren kita sangat penting, terutama memperkuat pemahaman terhadap nushus,” ujarnya.


Sumber: pwmu.co