Iklan

Iklan

,

Iklan

Riang Bermuhammadiyah ala Buya Hamka

Redaksi
Minggu, 18 September 2022, 10:39 WIB Last Updated 2022-09-18T03:39:30Z


Oleh: Roni Tabroni,
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah


"Tidak ada yang kucari di Muhammadiyah kecuali rida Allah." Penggalan statement Hamka ini dituangkan Haidar Musyafa dalam novel biografi Buya Hamka. Kalimat itu juga menegaskan motif mengapa Hamka harus berada dalam Ormas ini. 


Di usia Muhammadiyah yang ke seratus lebih, semua kader, anggota, dan simpatisan Muhammadiyah pantas merenungkan kembali penggalan kata di atas. Sekaligus belajar dari kisah perjalanan Hamka yang sangat heroik. 


Sejak remaja, di usianya yang masih 17 tahun, Hamka bertolak dari Padang Panjang menuju Yogyakarta dengan maksud menuntut ilmu agama. Sesampainya di Yogyakarta, Hamka kagum dengan pola dakwah yang dikembangkan Muhammadiyah. 


Seperti halnya ayah Hamka, Haji Rasul, Hamka juga melihat ada yang berbeda dengan Muhammadiyah. Gerakannya unik, sebab agama tidak hanya diajarkan lewat doktrin-doktrin verbal tetapi menjadi gerakan sosial. 


Walaupun satu guru dengan ayahnya, namun pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan pada aplikasi dakwahnya berbeda. Setiap ayat yang diajarkannya harus benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. 


Maka tidak aneh jika baru beberapa hari di Yogyakarta, Hamka langsung mendaftarkan diri menjadi anggota Muhammadiyah. Walaupun masih remaja, Hamka yakin dengan pilihannya itu. Ketika di Yogyakarta itulah Hamka selain belajar ilmu agama, juga belajar pidato dan menulis yang terinspirasi juga oleh para pengurus Muhammadiyah yang selalu mengisi media lokal. 


Ketika kembali ke Padang Panjang, Hamka langsung menggagas sebuah program pelatihan pidato dan menulis. Teman-temannya dilatih oleh Hamka. Bahkan dari situ pula Hamka mulai merintis buletin dan membukukan konten-konten pidato teman-temannya. 


Kebiasaan Hamka berpidato membuat dirinya semakin dikenal. Kepiawaiannya berpidato juga membuat dirinya makin disukai masyarakat. Dalam perjalanannya, Hamka sempat down karena masyarakat apatis terhadapnya dikarenakan kemampuan bahasa arab yang kurang fasih dan konten pidato yang dianggap dangkal. Namun, sepulangnya Hamka dari tanah suci, membuat pamor Hamka semakin menanjak kembali. 


Hamka juga kemudian semakin punya kesempatan untuk melanjutkan perjuangan ayahnya yaitu memurnikan ajaran Islam, termasuk mengembangkan Muhammadiyah. Ketika beberapa kali Hamka mengikuti kegiatan kongres, para pimpinan pusat Muhammadiyah melihat potensi Hamka yang luar biasa. Maka ditugaskanlah Hamka untuk berdakwah di Makasar, sebab rencananya di tahun mendatang kongres akan dilaksanakan di Makassar.


Keberadaan Hamka di Makassar, walaupun hanya beberapa tahun, memberikan trend positif. Masyarakat sangat menyukai Hamka. Gaya dakwahnya membuat ummat semakin tertarik. Maka semakin berkembanglah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. 


Sekembalinya Hamka ke Padang Panjang membuatnya semakin bersemangat mengembangkan Muhammadiyah. Meski kehidupannya pas-pasan, beserta istrinya Siti Raham, Hamka tetap menjalani jalan dakwah. Selain di Padang Panjang, Hamka juga terus aktif dan berdakwah di Muhammadiyah ke berbagai daerah. Keaktifannya di persyarikatan ini mengantarkan Hamka menjadi Ketua Wilayah. 


Mengajarkan Islam secara kultural, melalui dakwah dan pendidikan terus dijalaninya dengan tekun. Ketika harus memenuhi tantangan untuk memimpin sebuah Majalah di Medan, Hamka memenuhinya. Majalah Pedoman Masyarakat yang sebelumnya dipimpin M. Yunan Nasutuon yang juga orang muhammadiyah, kemudian dipercayakan kepada Hamka. 


Sambil mengembangkan Majalah, Hamka pun terus mengaktifkan Muhammadiyah di Medan. Lagi-lagi, di tengah kesibukannya bekerja mengembangkan media, Hamka terus berdakwah lewat Muhammadiyah. 


Begitupun ketika Hamka harus memenuhi undangan Presiden Soekarno untuk menetap di Jakarta. Hamka lagi-lagi tidak bisa melepaskan diri dari Muhammadiyah. Sambil bekerja di Depag, Hamka juga masuk jajaran Muhammadiyah Pusat. Ketokohan Hamka yang semakin meninggi itu, dengan tingkat kesibukan yang amat sangat, hanya satu yang tidak bisa ditinggalkan yaitu keaktifannya di Muhammadiyah. 


Di persyarikatan Muhammadiyah Hamka menemukan hal paling berharga. Di atas semua reputasi, prestise, dan kenikmatan dunia, Hamka merasakan ketenangan jiwa. Walaupun sempat terjun ke dunia politik, sudah diberi kepercayaan untuk mengembangkan Mesjid Raya Kebayoran (al-Azhar), dan kesibukan mengelola media di Depag, Hamka tidak bisa meninggalkan Muhammadiyah. 


Jasa Hamka terhadap pengembangan dakwah Muhammadiyah begitu besar. Walaupun kemudian namanya diabadikan menjadi salah satu kampus bergengsi di Ibu Kota yaitu Universitas Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), namun sebenarnya Hamka tidak berharap apa-apa dari Muhammadiyah. 


Apa yang dicari Hamka sebenarnya seperti statement-nya di atas yaitu rida Allah semata, bukan yang lain. 

Iklan