Tawakal dalam Kehidupan

Notification

×

Iklan

Iklan

Tawakal dalam Kehidupan

Selasa, 13 September 2022 | 20:04 WIB Last Updated 2022-09-21T07:08:05Z


Oleh: Prof KH Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Siapakah orang-orang yang bertawakal itu? 


Di dalam ayat Al-Quran dijelaskan, “Dia (Allah) pun berfirman, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS Ali Imran [3]: 173). 


Sekali lagi, saat kita merasa yakin dengan pertolongan Allah, maka Allah akan  menolong kita. Sedangkan saat kita ragu akan pertolongan Allah, maka Allah pun ragu untuk menolong kita. 


Ini seperti hukum timbal balik atau Law of Reciprocity. Sungguh, pada hakikatnya Allah telah memudahkan urusan kita. Karena itu, berjalanlah bersama Allah di mana pun kita berada. 


Keimanan menciptakan kepasrahan total pada seorang hamba. Kendati ia diperintahkan untuk disembelih, maka ia akan melaksanakannya dengan segenap ketaatan. Kepasrahan, ketika musibah dan ujian hidup datang, sangat diperlukan oleh jiwa kita. 


Mari kita renungkan ketaatan dan kepasrahan Ibrahim as dan Ismail as, dalam ayat berikut, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash Shaffat: 102). 


Keimanan yang mendalam, melahirkan ketundukan yang mengagumkan, kepasrahan total dalam setiap pribadi seorang hamba. Pada ayat di atas, Nabi Ibrahim as, sebagai seorang ayah yakin bahwa perintah Allah lebih dari apapun, bahkan melebihi jalinan cinta kepada anak yang bertahun-tahun diharapkannya. 


Sedangkan bagi Ismail as, sebagai seorang anak, tidak ada padanya kecuali kesabaran dan kepasrahan. 


Kasih sayang mereka begitu besar, tetapi tak akan pernah mengalahkan kecintaan mereka kepada Allah. Begitu indah Allah memberikan pelajaran bagi kita tentang arti sebuah ketaatan dalam kisah yang diabadikan di dalam Al-Quran ini. 


Kisah ini memberikan pesan moral bagi kita, bahwa ujian itu datang silih berganti, usai satu episode; maka ujian berikutnya telah menanti. Begitulah kondisi kehidupan bagi orang-orang yang beriman. 


Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2-3). 


Ujian yang menerpa Nabi Ibrahim as, Siti Hajar beserta putranya, Ismail, sudah berhasil mereka lewati. Allah memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelih sang putra. 


Bagaimanakah rasanya seorang ayah yang diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri? Putra yang sudah lama didambakannya, yang kehadirannya menjadi sinar bagi jiwanya dan memenuhi harapan sebagai tunas yang kelak akan melanjutkan risalahnya? Sungguh pilihan yang sulit. 


Akankah perintah Allah ataukah rasa cintanya pada sang putra yang akan didahulukan?


Tetapi keimanan Ibrahim as menjadikannya tunduk pada perintah Allah. Kemudian dia memanggil putranya dan ia sampaikan perintah Allah di dalam mimpi itu. 


“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dan engkau tau mimpi seorang Nabi adalah benar. Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka, pikirkanlah olehmu, bagaimana menurutmu?” 


Tanpa ragu sedikitpun sang putra, Ismail menjawab, “Duhai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah. Niscaya kau akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”


Keputusan yang diambil keduanya dalam kisah itu merupakan perwujudan iman yang sempurna. Iman yang tidak menyisakan sedikitpun keraguan di dalamnya. Ibrahim as dengan tegar dan kepasrahan total hendak menyembelih anaknya sendiri karena perintah Allah. 


Sedangkan Ismail tunduk dan patuh karena ia yakin bahwa perintah Allah mendatangkan kebaikan, sedangkan kebaikan bagi dirinya kala itu adalah bersabar. 


Hal ini dijelaskan kembali di dalam Al-Quran, “Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 104 – 107). 


Ibrahim as membenarkan mimpi itu dan keimanan membimbingnya untuk senantiasa taat, tunduk, patuh, dan pasrah kepada Allah. Dalam dadanya bersemayam gelora iman dan keyakinan kepada Allah. Maka, Allah menggantinya dengan domba yang besar. 


Hingga sekarang, peristiwa ini diabadikan dalam pelaksanaan hari raya Idul Adha, sebagai simbol ketaatan yang tulus kepada Allah. Sebuah representasi iman yang menciptakan kepasrahan total dalam memenuhi panggilan Allah Swt.


Manusia, termasuk salah satu makhluk-Nya yang tergesa-gesa ketika menyikapi kehidupan. Misalnya, kita kerap ingin segera menyelesaikan masalah secara cepat. 


Tak ada kesabaran dalam menjalaninya. Oleh karena itu, ketika kita sedang dalam kesulitan hidup, mari mengingat rumus hidup yang diberikan Allah Swt., “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6).


Lafaz ma’a dalam ayat di atas, dapat bermakna “sesudah” atau dapat pula bermakna “bersama”. Nah, ketika ‘usr (kesulitan) disandingkan dengan yusr (kemudahan), berarti, antara kesulitan dan kemudahan; sangat dekat. 


Kata al-‘usr (kesulitan) berbentuk definite, sementara kata yusran (kemudahan) tidak. Ini mengindikasikan maknanya bahwa setiap satu kesulitan selalu disusul dua kemudahan. 


Dengan dua kemudahan yang diberikan Allah, selayaknya kita mulai menyadari kemudahan dan pertolongan dari Allah dalam hidup ini begitu banyak, lalu tugas kita ialah mensyukurinya. 


Asbabul nuzul surah Al-Insyirah ayat 5 sampai 6 ini, berkenaan dengan kesulitan yang menimpa Rasulullah Saw. yang sedang berada di Mekkah. Rasulullah Saw., beserta dengan umat Islam sedang dalam kondisi tertekan dan kesulitan akibat gangguan kaum kjafir Quraisy. 


Karena itu, Allah melalui ayat ini, berjanji akan mengganti kesulitan dengan kemudahan, yang secara riil dibuktikan dengan kemudahan yang diperoleh umat Islam tatkala hijrah dan menetap di Madinah.


Digubah dan disesuaikan dari buku karya Prof Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).