Ini, Lho, Tata Cara Salat Tahajud, yang Berdampak Dahsyat untuk Kehidupan

Notification

×

Iklan

Iklan

Ini, Lho, Tata Cara Salat Tahajud, yang Berdampak Dahsyat untuk Kehidupan

Rabu, 28 Desember 2022 | 12:49 WIB Last Updated 2022-12-28T05:49:36Z


BANDUNG
— Saat orang lain tertidur lelap dan dinginnya malam menusuk pori-pori tubuh; saat inilah waktu yang diistimewakan Allah untuk kita isi dengan ibadah. Allah menjadikan malam sebagai waktu yang mulia untuk melakukan pertemuan agung dengan-Nya. 


Tetapi, sangat sedikit orang yang menyadarinya. Bahkan, sangat sedikit orang yang mau bersusah payah bangun malam dan bercengkrama bersama Allah dengan menunaikan shalat tahajud. 


Padahal, shalat tahajud bisa kita gunakan untuk menumpahkan isi hati kepada sang pemilik kehidupan, Allah Swt. Dengan melaksanakan shalat tahajud, segala beban hidup dapat diadukan sehingga tak mengakibatkan kita dirundung kegundahan batin terus-menerus. 


Salat lail atau yang lebih sering disebut dengan salat tahajud pada dasarnya sama dengan salat tarawih, berdasarkan pada cara pelaksanaannya, yaitu salat sunah pada malam hari yang dikerjakan setelah salat Isyak. 


Hanya saja istilah salat tarawih digunakan untuk salat lail yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat al-Bukhari berikut: 


“Dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman (diriwayatkan) bahwa dia bertanya kepada ‘Aisyah r.a.: Bagaimana tata cara salat Nabi saw pada bulan Ramadhan? 


Aisyah r.a. kemudian menjawab: "Beliau salat (sunah qiyamul–lail) pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya, kemudian beliau salat lagi empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya kemudian beliau salat tiga rakaat.” [H.R. al-Bukhari Nomor 3304].


Menilik hadis di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah saw tidak pernah menambah rakaat salat malam melebihi dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Adapun tatacara pelaksanaannya yaitu dengan empat rakaat salam, empat rakaat salam, dan diakhiri dengan witir tiga rakaat.


Namun selain dengan cara tersebut, terdapat beberapa formasi lain pada rakaat salat malam, antara lain sebagaimana disebutkan pada hadis berikut: 


“Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw melakukan salat antara Isyak dan Subuh sebanyak sebelas rakaat. Beliau mengucapkan salam pada setiap dua rakaat dan melakukan witir dengan satu rakaat.” [H.R ad-Darimi Nomor 1538].


Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa Rasulullah saw mengerjakan salat malam berjumlah sebelas rakaat dengan cara dua rakaat salam, dua rakaat salam hingga berjumlah sepuluh rakaat dan diakhiri witir satu rakaat. 


Istilah salat tahajud berasal dari firman Allah swt dalam Al-Qur’an surah al-Isra’ (17) ayat 79.


Adapun tata cara salat tahajud dapat disimpulkan secara ringkas sebagai berikut:


1. Waktu pelaksanaannya adalah setelah salat isya sampai sebelum waktu shubuh. (Berdasarkan HR. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah). Tetapi yang paling baik adalah pada sepertiga akhir malam (Berdasarkan HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Jabir).


2. Salat tahajud boleh dikerjakan secara berjamaah (berdasarkan HR. Muslim dari Ibnu ‘Abbas), dan boleh juga dilakukan sendirian.


3. Diawali dengan salat iftitah dua rakaat. (Berdasarkan HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abu Hurairah).


4. Sebelum membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, membaca do’a iftitah: “Subhaanallaahi dzil-malakuuti wal-jabaruuti wal-kibriyaa’i wal ‘adzamah”. Artinya: “Maha suci Allah, Dzat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.”


5. Hanya membaca surat al-Fatihah (tidak membaca surat lain) pada tiap rakaat. (Berdasarkan HR. Abu Daud dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas). Adapun bacaan lainnya seperti; bacaan ruku’, i’tidal, sujud dan lainnya sama seperti salat biasa.


6. Salat iftitah boleh dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. (Berdasarkan HR ath-Thabrani dari Hudzaifah bin Yaman)


7. Setelah salat iftitah, melaksanakan salat sebelas rakaat. Beberapa hadits Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa salat tahajud bisa dilaksanakan dengan berbagai cara, di antaranya adalah: 1) Melaksanakan empat rakaat + empat rakaat + tiga rakaat (4 + 4 + 3 = 11 rakaat) (Berdasarkan HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah); atau 2) Dua rakaat iftitah + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + satu rakaat (2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 1 = 13 rakaat). (Berdasarkan HR. Muslim dari ‘Aisyah).


8. Pada salat witir, hendaknya membaca surat al-A’la setelah al-Fatihah pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, dan al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga. Setelah salam, sambil duduk membaca: “Subhanal-malikil-qudduus.” (3x). lalu membaca:“Rabbil-malaaikati war-ruuh” (Berdasarkan HR. al-Baihaqi, juz 3/ no. 4640; Thabrani, juz 8/ no. 8115; Daruqutni, juz 2/ no. 2, dari Ubay bin Ka’ab. Hadits ini dikuatkan oleh ‘Iraqi).


9. Membaca doa.