Kisah Dahlan Muda, Berhaji dan Berguru

Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Dahlan Muda, Berhaji dan Berguru

Minggu, 12 Maret 2023 | 08:09 WIB Last Updated 2023-03-12T01:09:01Z


Di usia menginjak 21 tahun, Muhammad Darwis menikah dengan Siti Walidah, putri Kiai Haji Muhammad Fadhil, Hoofd Penghulu Hakim Kraton Yogyakarta. Acara pernikahan berlangsung sederhana pada bulan Dzulhijjah tahun 1889.


Beberapa bulan setelah menikah, masuk tahun 1890, Muhammad Darwis naik haji dengan biaya kerajaan. Dia naik haji karena permintaan Sultan Hamengku Buwono VII untuk menghajikan badal ayahnya Sultan Hamengku Buwono VI.


Menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, berduyun-duyun sanak saudara handai taulan jauh dan dekat mengunjungi rumahnya di Kauman zonder undangan. Begitu juga para tetangga datang menyampaikan ucapan selamat jalan dan perpisahan.


Malam harinya diadakan bacaan tahlil dan Barzanji. Selanjutnya diteruskan ramah tamah sampai lepas tengah malam.


Demikian diceritakan suasana KH Ahmad Dahlan naik haji dalam buku Kiyai Haji Ahmad Dahlan Cerita Tentang Catatan Haji Muhammad Syoedja’. Haji Syoedja’ adalah murid pertama Kiai Dahlan.


Buku itu menulis, jam 7 pagi harinya berangkat para sepuh dan gurunya Muhammad Darwis serta kerabat-kerabatnya berkunjung kembali untuk mengantar keberangkatannya ke Station Spoor Tugu.


Waktu itu Kota Yogyakarta masih sunyi kendaraan. Orang berangkat haji dari rumahnya berjalan kaki bersama-sama dengan para pengantarnya ke stasiun.


Jam 8 setelah bersalaman dengan keluarga putri dan bersembahyang safar, Muhammad Darwis berangkat keluar ke stasiun dihormati oleh para sesepuh dan diiring oleh beratus-ratus pengantar dengan seruan adzan yang nyaring. Para pengantar banyak yang berlinang airmatanya dan tersedu-sedu.


Pada masa itu pergi haji masih dipandang sebagai bepergian yang maha penting dan sukar dalam perjalanannya. Sampai di stasiun kurang lebih jam 9. Di situpun sudah penuh pengantar-pengantar yang mendahului jalan.


Transit di Singapura


Kurang lebih jam 9.30 Muhammad Darwis dan pengantar yang langsung ke Semarang sudah menumpang gerbong spoor. Tinggal menunggu lonceng berbunyi. Téng…téng…téng… lonceng berbunyi, muadzin lantas berseru Iqamat menandai keberangkatan jamaah haji.


Spoor melaju menuju Semarang. Pengantar melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan dan selamat tinggal. Jam 4 sore kereta api sampai di Stasiun Kota Semarang disambut oleh para masyayeh dan badal-badal-nya yang menyediakan pondokan. Mereka ini yang mengurusi serba-serbinya semasa di Semarang sambil menunggu kapal bersama jamaah haji lainnya.


Hari ketiga berangkat ke Singapura menumpang kapal dagang bangsa Tionghwa. Sore hari kapal meninggalkan Pelabuhan Semarang. Selama tiga malam dua hari kapal sampai di Singapura. Rombongan haji disambut oleh Syekh Abdul Kahar di Kampung Jawa dengan beberapa pegawainya.


Jamaah dan barang-barangnya diangkut ke rumah pondokan. Hari kelima di Singapura jadwal kapal berangkat. Rombongan haji menumpang kapal Mispil milik Mij Maclin Walson yang berangkat dari Tanjung Pager Singapura menuju Eropa melalui Aden dan Jeddah.


Lima belas hari kapal berlayar dari Tanjung Pager sudah sampai di Laut Merah menuju Pelabuhan Jeddah. Jam 10 pagi kapal sudah menurunkan jangkarnya di laut, jauh dari dermaga. Penumpang haji turun ke perahu yang mengantar ke Pelabuhan Jeddah.


Tiba di Pelabuhan Jeddah disambut oleh Wakil Pemerintah Hijaz dengan pakaian resmi memberikan salam dan berjabat tangan. Kemudian dipersilakan masuk pintu Imigrasi ditanya datanya.


Orang yang ditanya harus menjawab dengan nama negerinya. Pada masa waktu itu tiap-tiap negeri (kota) di nusantara sudah ada syekh masing-masing di Mekkah.


Berhaji dan Berguru


Pada zaman itu Hijaz di bawah Kesultanan Turki disebut zaman Taqrir. Penduduk dari Yogyakarta harus menyebut Negeri Mataram. Karena Sri Sultan Yogyakarta mempunyai Gedung Wakaf untuk rakyat Mataram di Mekkah baik yang pergi haji maupun mukim.


Yang menjadi nadzir tiga orang keluarga yaitu Syekh Muhammad Shadiq, Syekh Abdulgani, dan Abdullah Zalbani. Jadi Muhammad Darwis dan rombongan haji tinggal di Gedung Wakaf Mataram dan dilayani syeh tersebut. Muhammad Darwis sebagai anak katib amin dan menantu Hoofd Penghulu Hakim Kraton Yogyakarta mendapat layanan istimewa.


Muhammad Darwis dan jamaah haji Yogya tiba di Mekkah pada tanggal 25 Rajab. Lalu melakukan umrah lebih dulu dengan thawaf, sa’i, dan tahalul. Setelah istirahat, lantas mengunjungi para alim ulama nusantara yang tinggal di Mekkah dan ulama Arab yang direkomendasikan ayahnya, KH Abu Bakar.


Ulama itu seperti KH Makhfudz dari Termas, KH Nakhrawi (Muhtaram) dari Banyumas, KH Muhammmad Nawawi dari Banten.


Usai haji memasuki bulan Syawal tahun berikutnya setelah selesai hari Idul Fitri jamaah haji pada umumnya diantar oleh muthawwif-nya kepada kepada ulama Syafi’iyah untuk mengambil ijazah mengganti nama.


Muhammad Darwis dan jamaah lainnya diantar ke ulama Syafi’iyah Sayid Bakri Syatha. Dia mendapat ijazah nama baru Haji Ahmad Dahlan. Kemudian populer dengan sebutan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.


Digubah dari artikel berjudul: Ketika KH Ahmad Dahlan Berangkat Haji (tabligh.id)