Iklan

Iklan

,

Iklan

Prof Din Syamsuddin: Ulama Muhammadiyah Harus Paham Sains dan Teknologi

Redaksi
Senin, 26 Januari 2026, 14:59 WIB Last Updated 2026-01-26T07:59:39Z


YOGYAKARTA –
Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Studium Generale bagi thalabah/thalibat PUTM yang mengangkat tema “Ulama dan Kewirausahaan: Integrasi Dakwah dan Kemandirian Ekonomi”.


Kegiatan ini diselenggarakan pada Kamis (22/01/2026) di Gedung Pusbang Muhammadiyah, Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Studium Generale merupakan agenda rutin PUTM yang bertujuan untuk menguatkan wawasan dan kepekaan thalabah agar mampu mengintegrasikan dakwah, kewirausahaan, dan kemandirian ekonomi secara berkemajuan dan berorientasi pada kemaslahatan umat.


Studium Generale dibuka dengan sambutan Ustadz Dahwan Muchrodji selaku Mudir PUTM PP Muhammadiyah. Beliau menyambut dengan baik atas terselenggaranya acara yang akan membahas dua materi utama tentang keulamaan dan kewirausahaan. Beliau menegaskan bahwa dalam dunia Islam, dunia bisnis bukan hanya dibolehkan, tetapi sangat dianjurkan. Nabi Muhammad ﷺ juga merupakan seorang saudagar. Selain itu, para fuqaha juga merupakan seorang yang kaya raya karena berdagang.


“Selain memperkuat sektor pendidikan, kita juga harus menghidupkan dunia bisnis syariah. Amal usaha tidak hanya sekolah dan rumah sakit saja, tetapi juga sektor ekonomi syariah seperti hotel syariah, wisata syariah, dan unit bisnis lainnya masih terbuka peluang untuk mengembangkannya. Sebab, kemakmuran negara dan juga persyarikatan juga ditentukan dengan menghidup-hidupkan sektor bisnis,” ujar Dahwan.


Materi pertama mengenai kewirausahaan yang disampaikan oleh Herry Zudianto selaku Presiden Direktur Margaria Grup memaparkan beberapa prinsip yang harus dimiliki oleh calon wirausahawan. Beberapa prinsip tersebut adalah memiliki kepekaan terhadap perubahan dan peluang yang ada, berani memulai dengan potensi yang dimiliki, tidak takut mengambil resiko, dan membangun personal branding yang nantinya akan berpengaruh terhadap kepercayaan customer.


Beliau juga berpesan bahwa hal yang krusial dalam bebrisnis adalah kolaborasi yang disertai dengan kepercayaan.


Sebagai kelanjutan dari materi pertama, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 Din Syamsuddin memaparkan materi kedua mengenai makna keulamaan di era digital. Pada saat ini, stigma mengenai makna ulama hanyalah seorang yang memiliki pengetahuan agama secara khusus. 


Hal itu tidak selaras dengan makna ulama dalam Q.S. Fathir: 28 bahwa selain menguasai ilmu agama, ulama juga perlu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat kauniyyah, termasuk sosiologi, ekonomi, biologi, antropologi, dan sebagainya.


Akan tetapi, hal tersebut harus didasarkan dengan pemahaman ayat-ayat qauliyyah. Dengan demikian, umat Islam dapat merebut kembali supremasi dunia.


“Jika Indonesia dan Persyarikatan ingin bangkit, maka salah satu kuncinya penguasaan dan pemahaman tentang ilmu pengetahuan agama dan teknologi. Ulama harus tegas dalam prinsip, luas dalam pengetahuan, dan luwes dalam perbuatan” tutur Din Syamsuddin.


Dengan demikian, Din Syamsuddin menekankan bahwa Ulama tidak hanya sebatas pewaris, pelopor, dan pelangsung, namun harus menjadi pencerah atau sirajan munira, yang selalu mengajak kepada Allah atau dai yang menyampaikan dengan cara tabsyir dan tandzir tanpa melupakan peran sebagai syahid atau umat pembukti sesuai dengan Q.S. Al-Ahzab: 45-46.


Melalui Studium Generale ini, ditegaskan kepada thalabah bahwa ulama tidak hanya kokoh secara keilmuan dan spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi serta adaptif terhadap perkembangan zaman. Integrasi dakwah, kewirausahaan, dan penguasaan ilmu pengetahuan diharapkan mampu melahirkan ulama pencerah yang berperan aktif dalam membangun peradaban dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Karena siapapun yang menguasai informasi adalah orang yang memiliki modal.

Iklan