Iklan

Iklan

,

Iklan

Teknologi AI Mengancam Ormas Islam, Dadang Kahmad Ajak Selami Pesan Kiai Dahlan

Redaksi
Minggu, 25 Januari 2026, 13:03 WIB Last Updated 2026-01-25T06:03:50Z


JAKARTA –
Di masa sekarang dunia mengalami percepatan yang luar biasa. Jika pada era konvensional maupun mekanikal, perubahan terjadi seratus tahun sekali, maka di era Akal Imitasi (AI) perubahan bisa terjadi setahun sekali bahkan bisa lebih cepat.


Percepatan perubahan lanskap kehidupan umat manusia akibat percepatan teknologi itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad pada Jumat malam (23/1/2026) dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Kantor Jakarta.


Tentang perubahan yang terjadi, kata Dadang, sudah masuk dalam pikiran Kiai Ahmad Dahlan dengan ungkapan yang populer kurang lebih seperti ini, Muhammadiyah masa kini berbeda dengan masa datang, maka jadilah kamu apapun dan kembali ke Muhammadiyah.


“Muhammadiyah yang kita hadapi sekarang ini itu sangat luar biasa. Kalau tidak ada transformasi yang sesuai dengan zaman kita akan ditinggalkan oleh orang,” ungkap Dadang.


Tantangan itu tidak hanya dihadapi oleh Muhammadiyah, melainkan juga gerakan ormas keagamaan mapan lain seperti NU, Persis, dan lain sebagainya. Bahkan di daerah Bekasi, 70 persen anak tingkat SMP dan SMA tidak mengenal ormas-ormas tersebut.


Mereka bukan sama sekali tidak peduli dengan urusan keagamaan, tapi perbedaan pola konsumsi informasi yang membuat mereka ‘seakan’ tidak menemukan ormas di kehidupannya. Yang mereka tahu justru kiai-kiai populer yang berseliweran di media sosial.


Sebagai Guru Besar Sosiologi Agama, Dadang meminta fenomena ini perlu mendapat perhatian serius dan diantisipasi. Dia menyarankan untuk merujuk pesan Kiai Dahlan yaitu untuk menghadapi semua perubahan dengan ilmu pengetahuan.


“Kiai Dahlan itu dahulu memprediksi akan ada zaman ilmu pengetahuan. Dan sekarang itu adalah zaman ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa. Kalau agama tidak bisa mengimbangi kemajuan pengetahuan, agama akan ditinggalkan,” katanya.


Melihat Barat masa sekarang, ungkap Dadang, agama semakin ditinggalkan para pemeluknya karena dianggap ‘kuno’ dan tidak relevan dengan ilmu pengetahuan yang mengalami percepatan luar biasa.


Fenomena tersebut mulai terlihat bibit-bibitnya di Indonesia. Misalnya dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa doktoral di UIN Sunan Gunung Jati Bandung menemukan bahwa, remaja sekarang menempatkan agama di urutan keenam sebagai urusan yang dianggap penting dalam dirinya.


Kegiatan maupun pelayanan offline yang dilakukan oleh institusi agama menurut Dadang saat ini semakin sepi peminat. Bahkan untuk ritual khusus seperti salat di masjid peminatan generasi sekarang semakin menurun.


Oleh karena itu, penguatan literasi digital untuk ormas keagamaan menjadi tawaran yang tidak bisa ditolak. Pada waktu bersamaan sikap-sikap kontra produktif maupun anti terhadap adanya kemajuan teknologi digital sudah sangat tidak relevan.

Iklan