Filosofi Garam: Internasionalisasi Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Filosofi Garam: Internasionalisasi Muhammadiyah

Rabu, 14 September 2022 | 12:06 WIB Last Updated 2022-09-14T05:08:19Z


Oleh: Haidir Fitra Siagian,
Ketua PRIM NSW Australia, Dosen Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


Sejak dibuka pekan lalu, antuasiasme kader-kader Muhammadiyah di seluruh dunia, untuk bergabung sebagi tim relawan media sosial Muhammadiyah Australia College (MAC) II di Sydney New South Wales, cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan terdapatnya sebanyak lima puluh satu kader yang mendaftar sebagai calon relawan. 


Tingginya minat mereka menjadi relawan dapat dipandang sebagai kegembiraan dan rasa cinta mereka terhadap Persyarikatan Muhammadiyah karena sudah mengglobal.


Perlahan dan dilaksanakan secara terukur, internasionalisasi gerakan Muhammadiyah yang sudah berlangsung selama dua dekade lebih, mulai terasa dan memberikan pengaruh kepada masyarakat dunia. 


Jika boleh berkata, telah terasa melebih filosofi garam. Garam terasa tapi tidak terlihat. Amal usaha Muhammadiyah terasa, tertera, terlihat pun termanfaatkan.


Berbagai amal usaha Muhammadiyah telah didirikan di beberapa negara. Ada masjid Muhammadiyah di Uganda. Di Perlis Malaysia, berdiri sebuah universitas. Ada TK Aisyiyah di Mesir. 


Demikian pula di beberapa negara lainnya. Dan kini, di Benua Kangguru, sudah mendidik lima puluh satu anak-anak sekolah dasar dari berbagai negara di Melbourne, melalui Muhammadiyah Australia College (MAC). Jumlahnya sama dengan jumlah relawan yang mendaftar.


Padahal sebelumnya, kita tidak pernah membayangkan adanya amal usaha Muhammadiyah di luar negeri. Selama ini kita memang fokus membangun sumber daya manusia, memberikan pertolongan kepada sesama, juga meningkatkan peradaban umat manusia dalam lingkup tanah air Indonesia. 


Seiring dengan perubahan zaman dan lebih mudahnya berinteraksi dengan pihak di luar negeri, membuka pandangan juga cara berpikir kita.


Merujuk perspektif Prof. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, orang-orang Islam Islam tidak boleh egois, menang sendiri, membangun di negeri sendiri. Umat Islam harus berpikiran maju dan memandang dunia luar. Mengabdi dan berbuat yang terbaik. Sebab Islam memegang konsep rahmatan lil alamin, yang berlaku untuk semua dimana saja berada. 


Ini dapat dipahami bahwa setelah berbuat atau sambil bergerak di dalam negeri, pada saatnya yang sama mesti meluaskan gerakan dakwah. Jadi tidak hanya bergerak di dalam negeri saja.


Dalam konteks inilah Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah New South Wales Australia sudah mencanangkan mendirikan amal usaha Muhammadiyah di Kota Sydney dan sekitarnya, dalam bentuk lembaga pendidikan. 


Sydney sebagai salah satu kota termegah dan termahal di dunia, terdapat puluhan ribu umat Islam. Setiap tahunnya memiliki sekitar lima belas hingga dua puluh ribu anak-anak usia sekolah. Yang tertampung di sekolah-sekolah Islam hanya berkisar dua ribu orang. Selebihnya masuk ke sekolah umum.


Sementara para orang tua sangat menginginkan anak-anaknya bersekolah di lembaga pendidikan Islam. Sesuatu yang wajar dan tentunya sangat dipahami, mengingat pentingnya pendidikan Islam. 


Berbagai kesibukan dan pekerjaan rutin yang tidak bisa ditinggalkan, membuat mereka tidak memiliki waktu mendidikkan ajaran Islam kepada anak-anaknya. Mereka juga masih sadar, tanpa pendidikan Islam yang memadai, sulit membayangkan masa depan keislamannya. 


Terutama karena banyaknya godaan dunia mengingat tinggal di negara liberal, serba bebas, yang hampir-hampir tidak lagi mengindahkan pentingnya bertuhan.


Di samping itu, pentingnya Muhammadiyah membangun amal usaha di negara-negara barat, juga bagian dari upaya mengenalkan Muhammadiyah di kancah internasional. Sebagai gerakan sosial-keagamaan yang modern, yang tujuannya tidak hanya untuk kepentingan bangsa Indonesia semata. Demikian pula halnya dengan pembangunan amal usaha di Australia. 


Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Haedar Nashir, Australia termasuk negara maju yang bisa berkolaborasi untuk pengembangan pendidikan, kesehatan, sosial, dan budaya. Dimana hal ini tentunya satu sama lain saling memberikan perspektif yang lebih maju, sejalan dengan pandangan Muhammadiyah akan Islam yang berkemajuan.


Dapat dikemukakan bahwa di Sydney terdapat organisasi atau lembaga keagamaan Islam. Sama halnya dengan apa yang ada di tanah air. Biasanya organisasi keagamaan Islam di sini, berbasis kepada asal negaranya. 


Ada Pakistan, Somalia, Albania, Malaysia, Banglades, Turky, Bosnia, Libanon, dan lain-lain. Demikian pula terdapat organisasi keagamaan Islam dari tanah air. Pada umumnya organisasi ini banyak mengadakan acara pengajian dan kelas-kelas agama Islam, mendirikan masjid atau surau juga membina taman pendidikan Al Quran bagi anak-anak.


Sementara dalam hal pendirian sekolah formal untuk anak-anak, masih sangat terbatas. Beberapa organisasi keagamaan dari Timur Tengah sudah memiliki sekolah Islam. 


Namun karena daya tampung yang terbatas dan biayanya sangat mahal, sehingga tidak semua anak-anak Muslim masuk ke sekolah tersebut. Demikian pula halnya dengan anak-anak diaspora Muslim Indonesia.


Mendirikan amal usaha seperti lembaga pendidikan di Australia, selain mengharuskan memiliki modal yang kuat, juga sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. 


Di sini, tidak sama dengan di tanah air. Mendirikan sekolah milsanya, tidak bisa dibangun hanya satu-satu. Tahun pertama menggali tanah lalu membangun fondasi dan lantai dulu. Tahun berikutnya menyusul dinding dan atap. Tidak bisa. Harus dibangun secara keseluruhan. Itupun belum cukup.


Harus memenuhi berbagai standar lainnya. Seperti aspek keamanan, lalu lintas, kesehatan, keindahan, lingkungan yang asri sampai kepada rekomendasi dari instansi pemadam kebakaran dan lembaga adat Aborigin serta persetujuan masyarakat sekitarnya. 


Semuanya harus terpenuhi, barulah keluar izinnya. Itulah yang terjadi di Melbourne, negara bagian Victoria. Muhammadiyah di sana berjuang hampir sepuluh tahun, baru berdirilah MAC sebagaimana dikemukakan di atas.


Perjuangan Muhammadiyah di Sydney, memang barulah dimulai dan sudah punya modal sedikit. Alhamdulillah sudah dicanangkan secara resmi oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, bersama rombongan Pimpinan Pusat Muhammadiyah lainnya di Leppington, 7 Agustus 2022 lalu. 


Sangat disadari bahwa niat mulia mendirikan Muhammadiyah Australia College II ini, akan menghadapi berbagai dinamika dan perjuangan yang memerlukan waktu.


Target atau harapan kita membuka tahun ajaran baru pada awal tahun 2025 nanti, akan sangat dipengaruhi dukungan seluruh umat Islam di seluruh dunia, terutama para warga Muhammadiyah yang dikenal sangat dermawan. Sebab kita juga menyadari sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dadang Kahmad, warga Muhammadiyah adalah gemar berinfaq. 


Walau bagaimanapun, tidak ada alasan bagi warga Muhammadiyah, walaupun tergolong miskin dan tidak berpunya, masih tetap suka berderma. Itulah wujud kecintaan dan ghirah beragama warga Muhammadiyah. Banyak berderma kurangi berkata-kata. Dengan sifat kedermawanan yang demikian, menjadi sebab ribuan dan bahwan ratusan ribu amal usaha Muhammadiyah, tumbuh dan berkembang mencerahkan sesama.


Muhammadiyah Australia College II yang akan kita bangun di Sydney nantinya adalah milik semua umat Islam pun warga Muhammadiyah. Secara organisasi nantinya akan menjadi milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jumlah warga Muhammadiyah di Sydney sangat terbatas. Boleh dihitung dengan jari tangan kanan dan tangan kiri. 


Manalagi kami berada di lingkungan minoritas Muslim dan sebagai negara yang sekuler. Itulah antara sebab kami menghimpun tim relawan dari kader-kader Muhammadiyah. Membantu melakukan sosialisasi informasi kepada umat Islam dan warga Muhammadiyah di seluruh penjuru mata angin.


Kami mengucapkan selamat datang dan selamat mengabdi kepada para relawan yang telah mendaftar sebagai anggota Tim Sosialisasi dan Diseminasi Informasi terkait pendirian Sekolah Muhammadiyah Australia di Sydney ini. 


Kader-kader unggulan, mulai dari Turky, Papua dan Jepang. Mulai dari guru, pelajar, dosen, mahasiswa, ASN, karyawan kantor Muhammadiyah, wartawan, pegiat media sosial, dan sebagainya.


Sekali bergabung jangan berhenti. Mencatatkan tinta emas namanya sebagai pribadi yang berperan mencetak sejarah, meneteskan keringat dan memberi andil turut serta membangun peradaban Islam dan Barat hingga merata di seluruh persada. Bekerja keras terus-menerus mewujudkan upaya mengibarkan panji-panji agama Allah di dataran Selatan bumi. (HFS).


Wassalam


Keiraville, 14.09.22


Sumber: suaramuhammadiyah.id