Iman Sumber Ketenangan Jiwa

Notification

×

Iklan

Iklan

Iman Sumber Ketenangan Jiwa

Minggu, 11 September 2022 | 12:33 WIB Last Updated 2022-09-21T07:10:59Z


Oleh: Prof KH Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


“Yakin dalam iman seperti kedudukan ruh dalam jasad. Dengannya orang-orang arif saling berunggul-unggulan dan orang-orang berlomba-lomba padanya. Apabila sabar bergandengan dengan yakin maka keduanya itu akan melahirkan jiwa kepemimpinan yang optimistik.” (Ibnul Qayyim Al Jauziyah).


Keyakinan atas eksistensi Allah, dalam ajaran Islam, merupakan tonggak keimanan seseorang. Melalui keyakinan ini, kita akan menjadi manusia yang memiliki keteguhan diri yang kokoh dan kuat. Sebab, hati meyakini secara penuh bahwa ada Zat Maha Agung yang akan menolong dan melindungi dalam kehidupan. 


Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw., bersabda, “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallahu (tiada Tuhan selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu satu di antara cabang-cabang iman.” (HR Muslim). 


Hadits tersebut mengindikasikan keyakinan kepada Allah merupakan derajat iman yang tertinggi. Ucapan Laa ilaaha illallah, tak sekadar pekerjaan lisan semata; tetapi keyakinan hati yang mengejawantah di dalam amal perbuatan. 


Hal itu bersesuaian dengan makna terminologi iman, yakni tashdiq bi al-janan (pembenaran dalam hati), iqrar bi al-lisan (pernyataan dengan lisan), dan ‘amal bi al-arkan (tindakan dengan anggota badan). 


Keyakinan juga akan meluruhkan semua keraguan sehingga semakin jelaslah jalan yang dituju untuk sampai pada tujuan hakiki, yakni Allahu ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). Ketika kita yakin kepada Allah, kemudian senantiasa mewujudkan keyakinan itu dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terwujudlah ketenangan dalam hidup. 


Betapa banyak orang kaya raya, populer, cendekiawan, ilmuwan, pejabat, pengusaha, dan raja; tetapi hidupnya tidak tenang. Banyak pula kisah orang yang tak kunjung merasakan ketenangan jiwa meskipun secara material melimpah. 


Mereka kemudian mencari dan terus mencari hingga sampailah pada titik di mana ketenangan jiwa yang diinginkan ada pada keyakinannya pada Allah Swt. Kelapangan, ketenangan, dan kegembiraan serta jauhnya hati dari perasaan gundah merupakan sebab yang mengantarkan seseorang untuk meraih kebahagiaan hidup. 


Ketenangan jiwa itu hanya akan diperoleh dengan dua macam, yakni kokohnya iman dan bersinambungan amal shaleh. Kalau kita memiliki keduanya, keyakinan kepada Allah yang direalisasikan dengan amal, maka ketenangan itu akan kita dapatkan. 


Keimanan pada Allah itu menjadi salah satu di antara tiga wilayah sempurnanya keislaman seseorang. Kita dikategorikan memiliki iman yang sempurna dan tanpa cacat manakala ketiga wilayah (hati, lisan, dan amal) berjalan secara beriringan. Dalam bahasa lain, hati, lisan, dan perbuatan kita menampakkan ketundukan pada Allah. 


Secara filosofis, esensi dari pengucapan dua kalimat syahadat Laa ilaha illallah, menuntut adanya keyakinan total, tanpa keraguan sedikit pun, dan kesadaran yang utuh dalam menjalankan ajaran ilahi. 


Sesungguhnya, pernyataan syahadat, merupakan ikrar keyakinan kepada Allah yang erat kaitannya dengan iman. Makna yang terkandung dalam syahadat meliputi pernyataan (Al Iqrar), sumpah (Al Qasam), dan janji (Al Mitsaq) yang ketiganya menjadi pembenaran hidup; bukan hanya sekadar pembenaran logika, tetapi pembenaran hati (tashdiq bil qalbi). 


Ibnu Athailah mengatakan, “Jikalau cahaya yakin telah bersinar untukmu, pasti kamu melihat akhirat lebih dekat kepadamu. Dan pasti (pula) kamu melihat kebaikan-kebaikan dunia, di mana sungguh telah kelihatan perubahan kehancuran atas kebaikan-kebaikan tersebut.” 


Maksud perkataan syeikh Ibn Athailah, ilmu yang tidak disertai oleh waham, tidak dicampuri oleh keraguan, dan tidak disertai oleh kehancuran. Dalam perspektif ilmu, keyakinan ialah pengetahuan yang telah mantap sehingga kita tidak ragu-ragu lagi dan tidak pula dicampuri oleh hal-hal yang tidak pasti sehingga keyakinan menjadi kuat dan kokoh. 


Allah Swt., berfirman, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS An Nahl []: 97). 


Karena itu, jika ingin bahagia, maka nikmatilah dimana engkau berada hari ini. Kalimat ini mengandung banyak makna. Ada syukur, lapang dada, tawadhu’, dan qona’ah di dalam keimanan pada Allah. 


Semua makna ini merujuk pada satu kondisi jiwa yang tenang. Apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita, terimalah dengan syukur, lapang dada, tawadhu’, dan qona’ah. 


Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menata hati sesuai dengan apa yang ia inginkan. Hati akan menjadi bersih dan tenang jika dirinya mengizinkan untuk itu. 


Sebaliknya, hati menjadi galau dan tidak tenang juga karena dirinya sendiri. Sebaik-baik manusia adalah yang mampu menata hati dan pikiran. Ketika kita yakin kepada Allah, maka Dia akan memberikan balasan terbaik untuk kita. 


Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Ingat, cara mendapatkan ketenangan jiwa adalah membangun keintiman hubungan bersama Allah Swt. (taqarub ila Allah). Ketenangan seperti inilah yang mampu menjadi obat dari segala penyakit hati dan kekacauan hidup. 


Terakhir, marilah kita memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keimanan dan keyakinan yang kokoh. Sebab, keimanan tanpa keyakinan maka hati kita akan keropos. Dengan demikian, hati yang keropos akan membuat kita menjadi manusia yang tidak tenang jiwa. 


“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hakikat yakin dan kemantapan makrifat kepada-Mu. Engkau sinarkanlah yakin itu ke dalam hati-hati kami sehingga segala perbuatan anggota badan kami tertuju hanya kepada-Mu.” 


Digubah dan disesuaikan dari buku karya Prof Dadang Kahmad yang berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014)