Kau Dustakan Nikmat-Nya!

Notification

×

Iklan

Iklan

Kau Dustakan Nikmat-Nya!

Sabtu, 08 Oktober 2022 | 07:55 WIB Last Updated 2022-10-08T00:56:05Z


Oleh: Ace Somantri,
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) 


Kenikmatan pasti dirasakan umat manusia di dunia, dari Barat sampai Timur dan dari Utara hingga Selatan. Setiap orang dari ragam kebudayaan, jenis etnis, ras, dan suku bangsa, pasti mendapatkan kenikmatan jasmani maupun ruhani. 


Kenikmatan jasmani yang dirasakan tiada tara. Berbagai varian warna kulit, baik itu warna hitam, putih, coklat, bule dan kuning langsat tetap sama memiliki sensor yang dapat merasakan langsung ketika bersentuhan dengan benda lain. 


Ketika mata berfungsi secara kodrati, melihat segala hal yang dapat dilihat, kenikmatanya sulit untuk dibayangkan. Coba saja seandainya mata kita tidak berfungsi, tentunya kita akan merasakan gelap gulita. Kedua telinga yang telah menjadi kelengkapan sempurna berfungsi mendengar setiap bunyi atau suara, baik pelan maupun keras.


Hidung dicipta tidak sekadar mencium harum dan bau sesuatu yang terhirup, melainkan alat bantu pernapasan setiap saat. Termasuk sesuatu hal yang benar-benar menyaring kotoran masuk melalui hidung. 


Pun begitu juga mulut sebagai alat indera untuk mengecap berbagai varian rasa, bukan hanya manis, asin, asam, dan pahit. Namun memiliki kemampuan mendeteksi rasa yang terkolaborasi dalam ramuan dari aneka ragam rasa. Termasuk bukan hanya mampu mengecap ramuan rasa nusantara semata, melainkan rasa dari berbagai dunia. 


Itulah sekelumit narasi tentang kenikmatan panca indera yang menjadi alat fungsional untuk komunikasi ketika manusia berinteraksi dengan mahluk apa pun dan benda-benda yang ada di alam semesta. 


Uraian tersebut meningindikasikan bahwa fungsi salah satu bagian tubuh yang dirasakan merupakan wujud kenikmatan material pada tubuh manusia. Panca indera bukan hanya fungsional secara faktual, melainkan menghantarkan dan menyimpan secara otomatis pada storage otak manusia. 


Setelah tersimpan dengan baik, maka diolah satu persatu bagian untuk disusun menjadi kerangka rangkaian bangunan ilmu, kemudian dikembangkan sebuah produk gagasan yang bernilai guna bagi manusia itu sendiri. Kapasitas daya tampung dalam storage otak tersebut, diperkirakan sebesar 1000 terabyte. 


Pertanyaanya, sudah berapa terabyte keilmuan yang kita simpan, olah, dan dikembangkan menjadi produk gagasan dan ide brilian? Memang sulit untuk mengukurnya. 


Nikmat mana yang kita dustakan? 


Apabila kita jujur penuh kesadaran, pertanyaan di atas sudah pasti jawabannya: kita lebih banyak mendustakan daripada mensyukurinya. 


Yaa Allah ampuni dosa diriku, keluarga, dan sahabat kerabat kami. Jauh untuk meyakini merasa paling beriman dan berislam manakala masih banyak mendustai nikmat-Mu. 


Kenikmatan dari panca Indera saja tak terhitung, belum anggota tubuh lainnya. Kenikmatan berwujud itu, berupa panca indera yang melengkapi kesempurnaan jasad yang menawan nan rupawan, apalagi fungsinya baik-baik. 


Ketika cerita dan kisah Dahlan Iskan berobat ke luar negeri, kagetnya tidak kepalang. Bukan persoalan duit, melainkan ada hal yang mengagumkan dalam diri manusia, yaitu ketika pengobatan yang dilakukan pencangkokan organ tubuh, ternyata saat itu Dahlan Iskan mengetahui hal ihwal terkait organ tubuh bahwa harus ada perbaikan pembuluh darah. 


Saat itu konon kabarnya yang harus diperbaiki pembuluh darahnya sepanjang 50 centi meter, sepanjang itu biaya yang harus di keluarkan sebesar 500 juta rupiah. Artinya dia pikir seandainya satu meter panjangnya yang diperbaiki, maka biaya yang dibutuhkan 1 miliar rupiah. 


Sementara panjang total dari ujung ke ujung pembuluh darah manusia jika dibariskan membentang informasinya 60.000 mil, maka di konversi ke kilo meter menjadi 100.000 kilo meter. Bumi saja jarak tempuhnya apabila di kelilingi hanya 25.000 mil atau 40.000 kilo meter.


Bila dihitung berapa ribu triliun yang terinvestasikan dalam tubuh manusia?


Subhanallah (mahasuci Allah), kita ini sebenarnya sangat kaya sekali. Dengan fakta tersebut kita benar-benar harus bersyukur akan nikmat Allah yang telah diberikan. 


Sangat dungu, tolol, dan tidak tau malu ketika manusia hari ini tidak bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan. Kesempurnaan tubuh jasad, dengan panca indera lengkap terlihat cakap dan rupawan, sangat mungkin mahluk lain iri akan kesempurnaan manusia. 


Kekayaan yang dimiliki sangat luar biasa, alam semesta sebagai objek tidak untuk mahluk lain, sekalipun ada hewan melata lain cukup saja mereka menikmati sampahnya. Allah Maha besar yang telah memperlihatkan kebesaran, keagungan dan kekuasaan-Nya. Wallahualam


Bandung, Oktober 2022