Muhammadiyah: Pembaharuan Pemahaman Agama Tanggulangi Problem Kemiskinan!

Notification

×

Iklan

Iklan

Muhammadiyah: Pembaharuan Pemahaman Agama Tanggulangi Problem Kemiskinan!

Sabtu, 12 Agustus 2023 | 09:38 WIB Last Updated 2023-08-12T02:38:41Z


YOGYAKARTA
— Sebagai pijakan nilai dan pedoman moral bagi umat manusia, Agama telah mengemban peran sentral dalam membimbing perkembangan zaman. Namun, dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat dan beragam, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan bahwa perluasan pemahaman ajaran agama dalam berbagai konteks kehidupan menjadi semakin penting.


“Pengertian dalam banyak aspek ajaran agama perlu dikaji ulang, kemudian kontekstualisasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari,” ucap Mu’ti dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, yang diadakan pada Jumat (11/8/2023) di SM Tower.


Sebagai contoh, terdapat ayat dalam Al-Qur’an, yakni QS. Al Balad ayat 16, yang menyiratkan tentang “Aw miskinan za matrabah” atau “orang miskin yang sangat fakir.” Pendekatan kontekstualisasi diterapkan oleh Abdul Mu’ti dalam merumuskan ulang pengertian miskin dalam ayat ini. 


Menurutnya, konsep miskin dalam konteks ini mengacu pada “homeless people” atau orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Dengan meresapi esensi ayat ini sesuai dengan realitas sosial saat ini, muncul pemahaman bahwa membantu orang-orang tanpa tempat tinggal adalah bentuk nyata dari pelaksanaan nilai-nilai kemanusiaan yang diemban oleh agama.


Selanjutnya, dalam QS. Al Balad ayat 15 terdapat frasa “Yatiiman zaa maqrabah,” yang menyoroti anak yatim yang memiliki hubungan kerabat. Abdul Mu’ti menghadirkan pendekatan baru yang mengarah pada pemahaman bahwa kedekatan emosional memiliki peran penting dalam membantu mereka yang terlantar. 


Tidak harus terikat secara biologis, pemahaman ini memberikan pijakan untuk masyarakat dalam memberikan dukungan kepada anak-anak yatim yang merasa memiliki kedekatan emosional tanpa mengenal batasan konvensional.


Dalam konteks ini, kajian ulang terhadap pengertian ajaran agama membawa implikasi positif yang mendalam. Pendekatan kontekstualisasi mengakomodasi dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berubah. Ini mengarah pada kesadaran yang lebih mendalam tentang urgensi kemanusiaan yang melekat dalam ajaran agama. 


Ajaran tersebut menjadi landasan untuk tindakan nyata yang mengatasi masalah nyata dalam masyarakat, seperti pengangguran, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan sosial.


Pengamalan Agama


Dalam upaya menangani persoalan kemanusiaan yang semakin kompleks, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengemukakan pentingnya perbaharui dalam cara mengamalkan agama. Mu’ti menyoroti pandangan lama yang mengaitkan tingkat kesulitan ibadah dengan besarnya pahala, dan mengajak masyarakat untuk meninggalkan konsep tersebut.


“Jangan lagi ada anggapan bahwa ibadah semakin susah dilakukan semakin berpahala. Itu harus segera ditinggalkan,” tegas Mu’ti.


Menurut Mu’ti, perbaharui dalam cara mengamalkan agama tidak berarti mengurangi substansi atau esensi agama, melainkan menghadirkan cara pengamalan yang lebih bermakna dan sesuai dengan tuntutan zaman. Sebagai contoh, ia menyebut panti asuhan sebagai wujud nyata bagaimana ajaran agama dapat dijalankan secara kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.


Selain perbaharui dalam pengamalan agama, Mu’ti juga mendorong untuk melakukan perbaharui dalam gerakan sosial. Salah satunya adalah dalam penghimpunan dana untuk kegiatan amal. Mu’ti menekankan bahwa cara konvensional seperti penggalangan dana secara door to door perlu diperbaharui dengan memanfaatkan teknologi, seperti plaform digital, agar lebih efisien dan elegan.


“Kita bisa menggunakan teknologi digital untuk menghimpun dana dengan cara yang lebih elegan dan efisien. Ini akan membantu gerakan sosial kita menjadi lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tambah Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini.


Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, melalui visi dan arahan dari Abdul Mu’ti, akan terus berkomitmen untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan inovatif dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan meningkatkan efektivitas gerakan sosialnya. 


Dengan menerapkan perbaharui dalam cara mengamalkan agama dan bergerak, Muhammadiyah berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.


Acara pembukaan Rakernas MPKS PP Muhammadiyah ini turut dihadiri Menteri Sosial RI Tri Rismaharini, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman, anggota MPKS dari seluruh Wilayah Muhammadiyah, dan lain-lain.***(MHMD)