Penjelasan Unik tentang Penamaan Bulan-bulan Hijriyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Penjelasan Unik tentang Penamaan Bulan-bulan Hijriyah

Sabtu, 10 Februari 2024 | 11:54 WIB Last Updated 2024-02-10T04:54:31Z


JAKARTA
-- Bulan-bulan dalam kalender Hijriyyah ternyata memiliki sebab penamaan dan latar belakang yang unik.


Muharram


Bulan pertama dalam kalender Hijriyyah ini dinamakan “Muharram” berarti “yang dihormati” atau “yang terhormat” karena bulan ini termasuk dari empat bulan haram,  yang dihormati oleh orang-orang Arab pada zaman dahulu sehingga mengharamkan terjadinya peperangan pada bulan-bulan ini.

Empat bulan tersebut, tiga diantaranya terjadi berurutan : Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, sedangkan satu diantaranya yang terlepas dari ketiganya adalah Rajab. 


Hal ini seperti lafdzul jalalah atau lafadz “Allah” yang terdiri dari alif, lam, lam dan ha’. Huruf  alif  terpisah dan berdiri sendiri sebagaimana bulan Rajab, sedangkan huruf-huruf setelahnya, yaitu lam, lam dan ha’ seperti tiga bulan haram yang berurutan. Penamaan bulan-bulan ini sudah ada sebelum Islam, dan ketika Islam muncul, penamaan ini dibiarkan dan tidak dirubah. 

 

Shafar


Bulan ini dinamakan “Shafar” karena adanya wabah penyakit kuning. Sedangkan warna kuning dalam bahasa Arab adalah “ashfar”. Ada juga yang mengatakan bahwa sebab penamaannya karena kota-kota pada bulan ini menjadi kosong, yang dalam bahasa Arab adalah “shifrun” karena para penduduknya pergi berperang.


Rabi’ul Awwal


Bulan ini dinamakan “Rabi’ul Awwal” dikarenakan di bulan ini terjadi musim gugur. Sedangkan kalimat “rabi’’” memiliki beberapa arti. Diantaranya : hujan di musim semi, sungai kecil, warna hijau pada tumbuh-tumbuhan, dan juga rerumputan yang tumbuh di musim semi.


Rabi’uts Tsani


Penamaan bulan ini sebagai “Rabi’ut Tsani” atau “Rabi’ul Akhir” tentu saja dengan sebab yang sama dengan penamaan bulan sebelumnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Rabi’ul Awal merupakan awal musim semi, sedangkan Rabi’ul Akhir merupakan inti atau pertengahan musim semi. Sedangkan musim semi, menurut masyarakat Arab ada dua arti : musim semi dari arti penamaan bulan tersebut, dan musim semi secara waktu. 


Musim semi dalam arti penamaan bulan, adalah dua bulan ini : Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Sedangkan musim semi dalam arti waktu adalah waktu dimana bermunculannya tanaman kam’ah (jamur truffle) dan naura’, lalu setelah itu buah-buahan akan mulai tampak.


Jumadil Awwal


Kata “jumadi” menurut orang-orang Arab bermakna musim dingin, karena air pada bulan ini membeku (jumud) keadaan ini terjadi selama dua bulan berturut-turut. Karena musim dingin di mayoritas negara Arab memang terkadang cukup ekstrem, sebagaimana musim panasnya. Sesekali juga turun salju di beberapa lokasi tertentu, dan menjadi hal yang biasa.


Jumadits Tsani


Sebagaimana penamaan Jumadil Awwal, penamaan Jumadil Akhir juga mengacu pada keadaan musim yang dingin dan jumud. Bahkan di musim ini juga mulai banyak muncul es karena pembekuan air.


Rajab


Ada beberapa pendapat yang mengatakan sebab penamaan bulan Rajab. Diantaranya karena pada bulan ini orang-orang Arab saling mengatakan “urjubuu” yang berarti “berhentilah dari perang dan pengepungan”. 


Versi lain mengatakan bahwa penggunaan ini sebelumnya karena mereka takut akan perang, karena makna lain dari “rajab” adalah “takut”, ada juga yang mengatakan bahwa kalimat “rajab” berasal dari kata “tarjib” yang berarti pengagungan, ada juga yang menyebut bahwa kata “rajab” karena bulan Rajab terjadi pada pertengahan tahun, seperti halnya “rawajib” atau tulang-tulang jari yang berada di tengah, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan ini mengacu pada kegiatan pemupukan pohon. 


Sya’ban


Dinamakan “Sya’ban” dari asal kata “sya’b” atau bangsa, suku dan sekelompok orang. Karena pada bulan ini dahulu orang-orang Arab berkelompok-kelompok (tasya’ub) atau berpencar dalam mencari air, ada juga yang mengatakan bahwa penamaan ini terkait dengan penampakan bulan ini diantara dua bulan yang mulia : Rajab dan Ramadhan. Maka mereka kemudian menggambarkan bulan ini dengan penuh kemuliaan.


Ramadhan


Sebab penamaan bulan ini adalah karena bulan ini seringkali bertepatan dengan musim panas. Sehingga suhu udaranya menjadi sangat panas. Walaupun ada juga yang mengatakan bahwa penamaan Ramadhan ini karena di dalamnya terampuni dosa-dosa bagaikan api yang membakar habis dosa-dosa yang ada. 


Dahulu orang-orang Arab Jahiliyyah menamakannya “Al- Asham” atau tuli. Karena saat bulan ini tiba tidak terdengar suara senjata, karena mereka terlarang untuk berperang di dalamnya, kemungkinan juga karena kondisi yang sangat panas itu.


Syawwal


Dinamakan “Syawwal” dari kata “syawwiluu” atau yang bermakna “pergilah”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata Syawwal merujuk pada gerakan ekor unta yang bergerak karena memasuki musim kawin unta. Maka dari itu orang-orang Arab di masa jahiliyah melarang pernikahan di bulan Syawal. Sedangkan Islam datang untuk menghentikan tradisi yang kurang baik seperti ini, dan menjadikan pernikahan di bulan Syawwal adalah bernilai sunnah.


Dzul Qa’dah


Bulan ini dinamakan “Dzul Qa’dah” karena dahulu pada bulan ini merupakan “bulan duduk” (duduk dalam bahasa Arab adalah qu’uud). Karena di dalamnya orang-orang Arab pada masa itu berhenti dari peperangan dan berpergian jauh, sebagai persiapan menjelang bulan haji yang akan datang setelahnya. Selain itu bulan ini juga merupakan salah satu bulan haram.


Dzul Hijjah


Bulan ini dinamakan “Dzul Hijjah” karena dahulu orang-orang Arab berhaji pada bulan ini. begitu juga karena rangkaian ibadah haji selesai dan sempurna pada bulan ini. Karena rangkaian bulan haji ada tiga bulan berturut-turut : Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah, dan ibadah haji tidak diterima selain pada bulan-bulan ini. 


Penulis: Muhammad Utama Al Faruqi